Migrasi keluarga di Indonesia memiliki dampak psikologis dan spiritual yang kompleks terhadap anak usia sekolah dasar, terutama dalam konteks pendidikan Islam. Pemisahan fisik dan emosional dari orang tua menimbulkan tekanan emosional, yang mendorong anak untuk menyeimbangkan kebutuhan pribadi dengan harapan spiritual yang penting bagi perkembangan moral mereka. Dalam Islam, resiliensi bukan hanya kemampuan untuk menghadapi kesulitan, tetapi juga merupakan manifestasi iman, di mana ujian dipandang sebagai bagian dari tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji resiliensi psikospiritual pada anak migran dan non-migran serta faktor-faktor yang memengaruhinya. Pendekatan mixed-methods eksplanatori berurutan digunakan dalam studi ini. Lima puluh peserta (25 anak migran dan 25 anak non-migran) mengisi Children’s Psychospiritual Resilience Scale (CPRS), yang menunjukkan validitas dan reliabilitas yang baik (α > 0,70). Hasil kuantitatif menunjukkan bahwa anak migran memiliki ketahanan spiritual yang lebih tinggi (M = 4,53), sementara anak non-migran menunjukkan kemandirian akademik yang lebih besar (M = 4,35). Temuan kualitatif menyoroti pentingnya dukungan keluarga, hubungan positif antara guru dan murid, serta internalisasi nilai-nilai Islam dalam membangun resiliensi. Pendidikan Islam berperan sebagai lingkungan pendukung yang memperkuat iman, keseimbangan emosi, dan keterampilan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan Islam dapat menjadi sistem pendukung utama dalam memperkuat resiliensi anak dalam konteks migrasi