Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di sektor perikanan sering kali terfokus pada keselamatan armada, sementara risiko penyakit akibat kerja yang bersumber dari rendahnya personal hygiene cenderung terabaikan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat budaya K3 berkelanjutan pada komunitas nelayan melalui pendampingan edukatif mengenai praktik personal hygiene. Metode yang digunakan adalah pendampingan dialogis-reflektif yang berfokus pada transformasi persepsi risiko, mencakup tahap persiapan, proses diskusi terarah, dan evaluasi menggunakan instrumen kuesioner pre-test serta post-test. Kegiatan dilaksanakan di Desa Bonto Mateāne, Kabupaten Maros, melibatkan 30 nelayan serta dukungan pemerintah setempat. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa intervensi tanpa simulasi fisik efektif mempertahankan pemahaman tinggi pada 80% peserta dan mengakselerasi pengetahuan 20% peserta lainnya terkait risiko biologis maritim. Temuan utama menunjukkan adanya pergeseran paradigma nelayan dalam memandang higiene sebagai instrumen perlindungan diri yang fundamental bagi produktivitas kerja. Kesimpulannya adalah model pendampingan edukatif berhasil membangun komitmen kolektif nelayan terhadap budaya K3 yang lebih higienis dan terukur. Dukungan formal dari pemerintah desa menjadi faktor penguat dalam melegitimasi standar kesehatan baru di lingkungan pesisir. Saran yaitu menggabungkan pesan K3 ke dalam kebijakan desa serta menciptakan pendamping sebaya sebagai pengawal perubahan perilaku. Dengan strategi ini, diharapkan risiko penyakit yang terjadi karena pekerjaan nelayan dapat dikurangi secara nyata dan berkelanjutan.