Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan terhadap pola interaksi sosial masyarakat, namun juga menimbulkan peningkatan perilaku agresif di ruang digital seperti cyberbullying, flaming, dan ujaran kebencian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran empati sosial dalam menurunkan perilaku agresif di ruang digital melalui pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA. Data diperoleh secara purposif dari 13 artikel penelitian nasional dan internasional yang terbit pada periode 2020–2025 dengan kata kunci “social empathy”, “digital empathy”, dan “cyber aggression”. Hasil analisis menunjukkan bahwa empati sosial berperan sebagai mekanisme psikososial multidimensi yang melibatkan aspek kognitif, afektif, moral, dan sosial budaya. Secara kognitif-afektif, empati membantu individu memahami serta merasakan kondisi emosional orang lain, sehingga menurunkan kecenderungan perilaku agresif. Secara moral, empati sosial berfungsi menghambat Moral Disengagement yang memungkinkan pembenaran terhadap perilaku menyakiti. Sementara secara sosial budaya, empati diperkuat oleh nilai gotong royong, spiritualitas, dan dukungan keluarga yang mendorong perilaku prososial di dunia maya. Integrasi teori Empathy (Davis, 2018), Moral Disengagement (Bandura dalam Chen & Chen, 2025), dan Social Information Processing (Talalu et al., 2022) menunjukkan bahwa empati sosial berfungsi sebagai pengendali moral dan sosial dalam interaksi digital. Dengan demikian, empati sosial menjadi fondasi penting dalam membangun budaya digital yang etis, beradab, dan berlandaskan nilai kemanusiaan.