Kajian ini bertujuan menganalisis secara naratif potensi hipokolesterolemik minuman probiotik dairy dan non-dairy berdasarkan bukti in vitro, in vivo, dan klinis, dengan menempatkan matriks minuman sebagai fokus utama perbandingan. Literatur ditelusuri dari artikel penelitian primer dan artikel pendukung yang relevan, kemudian disintesis secara komparatif berdasarkan jenis substrat, mikroorganisme, mekanisme biologis, luaran profil lipid, serta konsistensi temuan. Hasil kajian menunjukkan bahwa minuman probiotik dairy (dairy), seperti yogurt, kefir, dan dadih, memiliki dukungan bukti yang relatif lebih kuat melalui mekanisme aktivitas bile salt hydrolase (BSH), peningkatan ekskresi asam empedu, asimilasi kolesterol, dan pengikatan kolesterol oleh sel bakteri. Sementara itu, minuman probiotik non-dairy (non-dairy), seperti susu kedelai fermentasi, kombucha, jus buah probiotik, dan water kefir, menawarkan keunggulan komposisi karena bebas kolesterol, bebas laktosa, serta mengandung fitokimia yang dapat memperkuat aktivitas metabolik probiotik, meskipun bukti klinisnya masih terbatas. Kajian ini menyimpulkan bahwa efek hipokolesterolemik minuman probiotik merupakan hasil interaksi antara strain, substrat, komponen bioaktif matriks, dan respons metabolik inang. Penelitian selanjutnya disarankan mengutamakan uji klinis terkontrol dengan formulasi produk, dosis probiotik, durasi intervensi, dan biomarker lipid yang terstandar. Kontribusi artikel ini adalah memperjelas pentingnya pendekatan berbasis matriks dalam pengembangan minuman probiotik anti-kolesterol.