Penelitian ini bertujuan menggambarkan strategi kebertahanan Sekolah Lansia Purbaya dalam perspektif teori AGIL Talcott Parsons. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara semi-terstruktur, dan studi dokumen untuk memahami dinamika sistem sosial sekolah lansia. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi pengumpulan, kondensasi, penyajian, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlangsungan Sekolah Lansia Purbaya terjaga karena terpenuhinya empat fungsi AGIL: kemampuan penyesuaian program terhadap kebutuhan lansia (Adaptation), keselarasan tujuan antara peserta dan mitra pendamping (Goal Attainment), terciptanya hubungan sosial yang harmonis dan suportif (Integration), serta terpeliharanya nilai, kebiasaan positif, dan semangat belajar secara berkelanjutan (Latency). Sekolah Lansia Purbaya terbukti memberikan dampak positif bagi kualitas hidup lansia, terutama dalam aspek psikososial dan pembentukan komunitas yang suportif. Namun, ditemukan tantangan terkait keberlanjutan peran pengurus yang mulai mengalami kelelahan serta belum adanya mekanisme regenerasi yang sistematis. Penelitian ini merekomendasikan studi lanjutan dengan pendekatan kuantitatif atau mixed-method untuk mengukur dampak program secara terukur serta perbandingan antar sekolah lansia guna memahami variasi dinamika sosial. Kajian mengenai peran keluarga dan komunitas juga diperlukan untuk memperkaya pemahaman tentang faktor pendukung keberlangsungan program.