Aedes aegypti merupakan vektor penyebab penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang memang merupakan penyakit dengan angka kasus yang tinggi di banyak daerah, terutama di negara tropis seperti Indonesia. Pengendalian vektor secara kimiawi menggunakan larvasida sintetik menimbulkan risiko resistensi dan pencemaran lingkungan, sehingga diperlukan alternatif larvasida nabati yang lebih aman dan ramah lingkungan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun beluntas (Pluchea indica (L) Less) sebagai larvasida nabati terhadap mortalitas larva nyamuk Aedes aegypti. Jenis penelitian Quasi eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL). Populasi penelitian larva Aedes sp dan sampel sejumlah 200 ekor larva konsentrasi 0%, 3%, 6%, dan 9%, dengan pengulangan 3 kali dan diamati mortalitasnya setiap 3 jam dalam waktu pengamatan 24 jam. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis, dan Mann-Whitney dengan tingkat signifikansi (?) = 0,05. Hasil penelitian, ekstrak daun beluntas konsentrasi 6% dan 9% mortalitas 100% larva, sedangkan konsentrasi 3% mortalitas 86,7%. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan signifikan mortalitas antar kelompok (p = 0,012), dengan waktu kematian larva tercepat pada konsentrasi 9% (6 jam), diikuti 6% (12 jam), dan 3% (>24 jam). Uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan signifikan antara konsentrasi 3% dan 9% (p = 0,009), tetapi tidak signifikan antara 6% dan 9%. Simpulan bahwa ekstrak daun beluntas efektif sebagai larvasida nabati, dengan efektivitas meningkat seiring kenaikan konsentrasi. Masyarakat disarankan memanfaatkan tanaman beluntas sebagai alternatif pengendalian larva Aedes aegypti yang ramah lingkungan.