Di Indonesia, keterlambatan berbicara pada anak usia dini menunjukkan prevalensi berada pada kisaran 5–8% per 100 anak. Masalah inilah yang akan memengaruhi aspek komunikasi, sosial, emosional bahkan masa depan anak jika tidak segera ditangani. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika psikologis anak dengan gangguan keterlambatan berbicara dengan pendekatan teori belajar sosial Albert Bandura. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan studi kasus. Partisipan penelitian ini adalah anak perempuan berusia 3 tahun 3 bulan yang didiagnosis keterlambatan berbicara. Data diperoleh melalui wawancara (alloanamnesa), observasi perilaku, dan dokumentasi rekam medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gangguan keterlambatan berbicara dengan pendekatan teori belajar sosial muncul akibat partisipan kurang mendapatkan model yang baik untuk komunikasi dua arah dengannya. Orang tua membiarkan partisipan bermain sendiri, minimnya komunikasi dan interaksi sosial, bahkan hanya punya 1 teman bermain yang belum berbicara juga. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya memiliki model yang baik agar partisipan dapat meniru sehingga dapat mencegah gangguan keterlambatan berbicara pada anak usia dini. Abstract In Indonesia, speech delay in early childhood shows a prevalence of around 5–8% each 100 children. This problem will affect communication, social, emotional, and even the child's future if not immediately addressed. This study aims to understand the psychological dynamics of children with speech delay disorders using Albert Bandura's social learning theory approach. The method used is a qualitative case study. The study participants were girls aged 3 years and 3 months diagnosed with speech delay. Data were obtained through interviews (alloanamnesis), behavioral observations, and medical record documentation. The results of the study indicate that speech delay disorders, using the social learning theory approach, arise due to the participants' lack of good models for two-way communication with them. Parents let the participants play alone, with minimal communication and social interaction, and even only have one playmate who has not yet spoken. The implications of this study show the importance of having good models for participants to imitate and thus prevent speech delay disorders in early childhood.