Status gizi remaja terpengaruh oleh asupan makan, termasuk kebiasaan sarapan. Sarapan cukup dan bergizi penting mendukung pertumbuhan. Namun, banyak siswa melewatkan sarapan atau melaksanakannya secara tidak teratur, yang dapat berdampak pada status gizinya. Merujuk pada hasil riset nasional. oleh Litbangkes Kemenkes RI pada tahun 2020, hampir separuh anak-anak berusia 6-12 tahun belum mengasup energi yang cukup dipagi hari. Kondisi ini menandakan perlunya intervensi gizi yang lebih baik melalui pembiasaan sarapan yang bernutrisi dan proporsional sejak dini. Mengetahui hubungan antara pola kebiasaan sarapan dengan status gizi siswa merujuk pada indikator IMT/U dan LiLA di SMP Muhammadiyah 1 Minggir. Riset ini memanfaatkan data pemantauan status gizi milik Puskesmas Minggir dengan desain cross-sectional dan pendekatan kuantitatif. Sampel riset ini adalah siswa aktif kelas VII SMP Muhammadiyah 1 Minggir sebanyak 119 orang. Variabel bebas adalah pola kebiasaan sarapan (tidak sarapan, sarapan tidak teratur, sarapan teratur), sedangkan variabel terikat adalah status gizi merujuk pada IMT/U dan LiLA. Kriteria inklusi adalah siswa/siswi aktif kelas VII yang mempunyai data lengkap terkait pola kebiasaan sarapan dan status gizi termasuk berat badan, tinggi badan, dan lingkar lengan atas serta data pendukung seperti jenis kelamin dan tanggal lahir. Analisis data dikerjakan secara univariat dan bivariat memanfaatkan uji Fisher’s Exact Test. Mayoritas partisipan mempunyai kebiasaan sarapan tidak teratur (62,2%), status gizi baik merujuk pada IMT/U (67,2%) serta LiLA (53,8%). Hasil uji menampilkan hasil IMT/U (p = 0,476) dan LiLA (p = 0,057). Tidak dijumpai korelasi yang signifikan antara pola kebiasaan sarapan dengan status gizi