Pembangunan industri di Indonesia sejak era Orde Baru melalui Program Pembangunan Lima Tahun (PELITA) telah mendorong transformasi struktural perekonomian nasional, dengan Provinsi Jawa Barat sebagai pusat gravitasi sektor manufaktur. Kedekatan geografis dengan Jakarta menjadikan Jawa Barat, khususnya Kabupaten Bekasi, mengalami pertumbuhan industri yang sangat pesat, ditandai dengan berkembangnya koridor industri besar, termasuk Kawasan Industri Greenland International Industrial Center (GIIC). Perkembangan ini berkontribusi signifikan terhadap peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), namun secara simultan memicu pergeseran mata pencaharian masyarakat dari sektor agraris ke sektor industri dan jasa, serta menimbulkan dinamika sosial yang kompleks. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses pergeseran mata pencaharian masyarakat desa dan perubahan peran lembaga adat/lokal dalam merespons industrialisasi. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan studi kasus di Desa Pasir Ranji dan Desa Sukamahi, Kecamatan Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, diskusi kelompok terarah (FGD), dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa industrialisasi mendorong perubahan struktur sosial-ekonomi, melemahkan fungsi tradisional lembaga lokal, serta memunculkan potensi konflik sosial akibat tekanan ekonomi dan keterbatasan adaptasi masyarakat agraris. Temuan ini menegaskan pentingnya kebijakan pembangunan industri yang inklusif, berkelanjutan, dan berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.