Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

STRATEGI USAHA PERIKANAN NELAYAN ENGBATU-BATU KABUPATEN TAKALAR Tasrifin Tahara; Rismawidiawati Rusli
Pangadereng : Jurnal Hasil Penelitian Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 6, No 2 (2020)
Publisher : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36869/pjhpish.v6i2.169

Abstract

Dalam menjalankan usaha perikanan laut yang diversitas dan variatif, nelayan Engbatu-Batu seperti nelayan lain di Sulawesi Selatan menerapkan organisasi kelembagaan ponggawa-sawi. Beberapa masalah yang dihadapai nelayan dalam usahanya, antara lain: kesulitan dalam perolehan modal dan pengembangan usaha, kondisi sumber daya perikanan yang tidak menentu, praktik pemanfaatan sumber daya perikanan laut secara bebas/terbuka (open/free use), dan ketidakmampuan nelayan mengotrol situasi dan kondisi pemasaran hasil tangkapan. Untuk mengatasi masalah-masalah ini, nelayan melakukan berbagai strategi seperti: strategi menjalin hubungan dengan pihak-pihak lain, terutama pengusaha dan pedagang besar, untuk perolehan modal, pengembangan modal dengan menambah jumlah unit atau volume dari suatu bentuk usaha; pengelolaan anak buah dengan memantapkan pola-pola hubungan patron-client; pengelolaan informasi berkaitan sistem-sistem produksi (di laut), situasi permintaan dan harga, dan jaringan pemasaran; dan penolakan dan perlawanan nelayan terhadap beroperasinya nelayan cantram/parere dari desa-desa lain.
MAKNA PASEPPI’ BOTTING DALAM MASYARAKAT PADA ADAT PERKAWINAN BUGIS DI KABUPATEN SOPPENG Andi Rahmawakiyah; Tasrifin Tahara; Safriadi Safriadi; Munsi Lampe; Yahya Yahya
Phinisi Integration Review Volume 6 Nomor 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pir.v6i2.46038

Abstract

This research was conducted to find out (1) the role of paseppi' botting in Bugis wedding customs in Watansoppeng, (2) The meaning of paseppi' botting in wedding customs in Watansoppeng, the approach used in this research is descriptive qualitative with observational data collection methods, interviews , and documentation then analyze the data with data reduction techniques, data presentation and drawing conclusions.The results of the study show that (1) the role of paseppi' as a symbol of startification which is symbolized in the number of passeppi, namely: One pair of bali botting, comes from the ata' or to sama' class of ordinary people. Two pairs of passeppi botting, are in the aristocratic class which are categorized as bau, andi, petta. Three pairs of passeppi botting belong to the high aristocratic class which are categorized as kings, datu. (2) The people of Soppeng interpret passeppi botting in marriage: a positive impression because paseppi is interpreted as respecting and guiding, accompanying the happiness of a married couple who have made their solemnization of a marriage. Negative impression because many people mix up wedding customs that are not in accordance with their social status.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui (1) peran paseppi’ botting dalam adat perkawinan Bugis di Watansoppeng, (2) Makna paseppi’ botting dalam adat perkawinan di Watansoppeng, pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif  kualitatif  dengan metode pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi kemudian menganalisis data dengan teknik reduksi data,penyajian data dan penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) peran paseppi’ sebagai simbol startifikasi yang dilmbangkan dalam jumlah passeppi yakni : Satu pasang bali botting, berasal dari golongan ata’ atau to sama’ orang biasa. Dua pasang passeppi botting, berada pada golongan bangsawan yang dikategorikan bau, andi, petta. Tiga pasang passeppi botting, berada pada golongan bangsawan tinggi yang dikategorikan sebagai raja, datu.(2) masyarakat Soppeng memaknai passeppi botting dalam perkawinan: kesan positif karena paseppi dimaknai menghargai dan menuntun, mengiringi kebahagiaan suatu pasangan suami istri ini yang telah melakukan ijab Kabul.Kesan negatif karna banyak orang yang mencampur adukkan adat pernikahan yang tidak sesuai dengan status sosialnya.
Inventarisasi dan Pengembangan Potensi Cagar Budaya Kota Baubau Dinna Dayana La Ode Malim; Iwan Sumantri; Supriadi; Tasrifin Tahara
Kainawa: Jurnal Pembangunan dan Budaya Vol 1 No 1 (2019)
Publisher : Balitbangda Kota Baubau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46891/kainawa.1.2019.1-15

Abstract

This article aims to inventory the potential of cultural heritage, as well as document and classify data on the potential of the city's cultural heritage. The implementation of this activity is carried out through procedural steps in conducting studies in the preparation of plans which include field surveys, data processing, and analysis. This study also begins with an overview of the City of Baubau from various aspects, especially regional economics, society, (human resources and population), and aspects related to the cultural heritage of the City of Baubau then carries out an analysis related to the development policy of Baubau City. In terms of inventorying potential cultural heritage based on the development phase of the City of Baubau since the Kingdom/Buton Sultanate. Furthermore, the existing conditions related to cultural preservation included basic information, cultural heritage potential, documentation, and classification of cultural heritage spaces for cultural development in the City of Baubau.
Refungsionalisasi Nilai-nilai Budaya Buton Sebagai Resolusi Kerawanan Sosial di Kota Baubau Tasrifin Tahara; Munsi Lampe; Dinna Dayana La Ode Malim
Kainawa: Jurnal Pembangunan dan Budaya Vol 1 No 2 (2019)
Publisher : Balitbangda Kota Baubau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46891/kainawa.1.2019.101-114

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian kami tentang refungsionalisasi nilai-nilai budaya Buton dalam mengatasi kerawanan sosial di Kota Baubau, serta strategi memfungsikan kembali nilai-nilai budaya Buton sebagai upaya preventif dalam mengatasi kerawanan sosial. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif di Kota Baubau sebagai lokasi utama pemukiman kelompok pewaris nilai luhur Budaya Buton era Kesultanan Buton, namun masih sering terjadi tindakan kekerasan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, dokumentasi, dan wawancara mendalam dengan informan. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara dengan deskriptif kualitatif. Kekayaan nilai-nilai budaya Buton menunjukkan potensi besar untuk dilakukan fungsionalisasi dalam berkehidupan masyarakat secara harmonis dan kokoh serta dinamis ke depan. Dalam rangka refungsionalisasi tersebut, perlu diperlukan strategi-strategi: pengaktifan peran desa adat, pembentukan dan atau penguatan kelembagaan budaya Buton yang sudah ada sebelumnya, memasukkan nilai-nilai budaya Buton dalam kurikulum pembelajaran di sekolah, memerdakan pemungsian beberapa komponen nilai budaya utama (Perda/Peraturan Daerah), dan kajian mendalam dan berkelanjutan tentang nilai-nilai budaya Buton untuk dijadikan referensi dan rekomendasi pembangunan berkelanjutan di segala bidang kehidupan.