Penggunaan pohon trembesi sebagai elemen penghijauan di Malang dipengaruhi oleh rekomendasi Karsten, yang menilainya efektif untuk menciptakan iklim mikro yang nyaman. Namun, kondisi kesehatan pohon trembesi saat ini menjadi perhatian serius, terutama karena banyaknya pohon tua dengan berbagai kerusakan akibat aktivitas manusia dan cuaca ekstrem seperti hujan disertai angin kencang. Di Malang, dari tahun 2018 hingga 2019, terjadi 75 kasus pohon tumbang yang berpotensi menimbulkan korban jiwa. Upaya untuk memantau kesehatan pohon dengan metode FHM mengalami kendala, sehingga dilakukan penelitian menggunakan citra satelit SPOT 6 dan metode NDVI. Penelitian ini bertujuan memperkirakan kesehatan pohon trembesi (Samanea saman) dan menganalisis korelasi antara nilai kesehatan pohon dan indeks vegetasi. Dilakukan di Kota Malang pada empat jalan yang didominasi pohon trembesi: Jl. Bandung, Jl. Jakarta, Jl. Tenes, dan Jl. Raya Langsep, dari Maret hingga Mei 2024, penelitian ini menggunakan survei dan penginderaan jauh citra satelit dengan NDVI, diolah menggunakan ArcGIS 10.8 dan QGIS 3.4.11. Sebanyak 25 sampel survei lapangan dikumpulkan menggunakan aplikasi CiBORS untuk memvalidasi data citra. Hasil uji korelasi antara Nilai Indeks Kerusakan (NIK) dan NDVI menunjukkan korelasi lemah (r = -0,22) dan (r = -0,2). Hal ini disebabkan karena kerusakan pada batang dan cabang tidak mempengaruhi warna daun, sementara NDVI mengukur kehijauan vegetasi. Dengan demikian, indeks vegetasi NDVI tidak efektif untuk menduga kesehatan pohon trembesi jika kerusakan tidak mempengaruhi daun.