Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Media Sosial, FOMO (Fear of Missing Out) dan Pendapatan terhadap Perilaku Konsumtif Generasi Z di Kabupaten Tulungagung Putri Vella Meliyanti; Rokhmat Subagiyo; Ummu Sholihah
Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi Vol. 7 No. 3 (2026): Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi (Januari - Februari 2026)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jemsi.v7i3.7392

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pessat dan penggunaan media sosial yang luas telah menghasilkan perubahan besar dalam cara generasi Z mengkonsumsi. Pajangan konten terhadap gaya hidup, promosi oleh influencer, serta tren yang viral mendorong lahirnya perilaku konsumtif yang semakin menguat. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak media sosial, Fear of Missing Out (FOMO), dan pendapatan terhadap perilaku belanja Gen Z di kabupaten Tulungagung. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan melakukan survey terhadap 90 orang responden dari Gen Z. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, pendapatan, media sosial, dan FOMO mempengaruhi perilaku konsumtif Generasi Z secara signifikan. Akan tetapi, jika dilihat secara terpisah, hanya media sosial yang menunjukkan dampak signifikan terhadap perilaku konsumsi, sementara FOMO dan pendapatan tidak menunjukkan efek yang berarti. Hasil ini menunjukkan pola konsumsi Gen Z, tanpa tergantung pada besarnya pendapatan serta factor psikologi FOMO. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif dalam upaya meningkatkan pendapatan serta merumuskan strategi dalam mengontrol perilaku konsumtif di kalangan Gen Z, khususnya di daerah yang sedang mengalami laju digitalisasi yang cepat.
EKONOMI DIGITAL : STUDI KEPUSTAKAAN TENTANG POLA BELANJA ONLINE DAN PERUBAHAN PREFERENSI MASYARAKAT Putri Vella Meliyanti; Agus Eko Sujianto; Kutbuddin Aibak
Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA) Vol 10 No 1 (2026): Edisi Januari - April 2026
Publisher : LPPM STIE Muhammadiah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31955/mea.v10i1.7004

Abstract

Perkembangan dalam sector ekonomi digital telah menghasilkan perubahan mendasar ddalam cara konsumsi dan preferensi belanja masyarakat di Indonesia. Kajian ini memiliki tujuan untuk melakukan analisis menyeluruh tentang perubahan perilaku belanja online, dampak factor sosial dan budaya, literasi keuangan digital. Fokus kasus studi ini adalh bagaimana akses internet, kemajuan teknologi mobile, dan percepatan digitalisasi setelah pandemic covid-19 membentuk pola konsumsi baru dari kalangan masyarakat. Metode studi kepustakaan di gunakan dalam penelitian ini, dengan mengkaji berbagai jurnal, buku, laporan industry, dan dokumen. Pendekatan ini dilakukan untuk memperoleh wawasan yang lebih dalam mengenai teren pergeseran konsumsi, kontribusi ekonomi digital dalam pertumbuhan ekonomi, serta dampaknya pada pelaku usaha, terutama pelaku usaha kecil menengah. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa e-commerce telah menjadi saluran utama untuk aktivitas konsumsi di masyarakat, dengan adanya peningkatan yang signifikan dalam niali transaksi dan Gross merchandise value (GMV). Pergeseran dalam perilaku belanja dipengaruhi oleh meningkatnya pemakaian smartphone, kemudahan layanan digital, serta munculnya format belanja baru seperti live commerce dan social commerce. Penelitian ini juga menemukan bahwa ekonomi digital memeberikan dampak positif terhadap peningkatanm inklusi ekonomi, perluasan akses pasar, dan pemberdayaan UMKM. Namun demikian, sejumalah tantangan masih ada, termasuk ketidak merataan aksaes internet, rendahnya tingkat literasi keuangan digital, resiko keamanan data, serta kebutuhan untuk regulasi yang lebih responsive. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa transformasi ekonomi digital tidak hanya mengubah metode belanja masyarakat, tetapi juga memerlukan kebijakan dan Pendidikan yang mampu menciptakan ekosistem digital yang aman, inklusif, dan keberlanjutan.