Abstrak Studi tentang relevansi asbābul nuzūl sebagai konsep historis dalam ayat-ayat Al-Qur'an tetap menjadi topik krusial dalam bidang studi tafsir modern, karena membantu menjaga validitas interpretasi dan mencegah penyederhanaan berlebihan makna di tengah perubahan sosial dan kemajuan digital. Artikel ini berusaha mengungkap bagaimana asbābul nuzūl sebagai landasan historis ayat-ayat Al-Qur'an dapat menjadi dasar untuk penafsiran yang fleksibel dan kontekstual, dengan menganalisis peran konteks wahyu ayat-ayat dalam memahami pesan ilahi. Studi ini menerapkan metode kualitatif-deskriptif melalui analisis tafsir tematik (tafsīr maudhū‘ī) dan pendekatan hermeneutika historis, yang menekankan interaksi timbal balik antara teks, konteks, dan realitas sosial. Temuan menunjukkan bahwa pemahaman asbābul nuzūl tidak hanya meningkatkan akurasi tafsir ayat, tetapi juga berfungsi sebagai alat penting untuk mempromosikan moderasi agama, literasi Islam, dan pembentukan nilai-nilai spiritual yang dapat beradaptasi dengan era digital. Dari perspektif akademik, peneliti merekomendasikan penguatan pendidikan tafsir berbasis konteks di lembaga-lembaga Islam agar nilai-nilai Al-Qur'an dapat diterapkan secara relevan terhadap isu-isu kontemporer seperti radikalisme, etika sosial, dan transformasi teknologi informasi. Kata Kunci: Asbābul Nuzūl, Tafsir Kontekstual, Hermeneutika, Literasi Islam, Relevansi Historis Abstract This study aims to analyze the implementation of amanah (trustworthiness) and mas’uliyyah (responsibility) values in Human Resource Management based on Islamic principles (MSDI) and their impact on employee performance at Khochi Kendari retail company. The background of this research lies in the urgency to develop Islamic work ethics amidst current challenges in workplace professionalism. This research uses a qualitative approach with in-depth interviews and participatory observation techniques targeting employees with more than two years of experience. The results show that amanah strengthens employee integrity and trust, while mas’uliyyah cultivates accountability and a strong sense of responsibility. The simultaneous application of both values leads to a productive and ethical work environment. It is recommended that Islamic values be continuously integrated into MSDI systems through structured training, spiritual development, and ethical-based performance evaluations to support sustainable employee performance. Keywords: Accountability, Amanah, Employee, MSDI, Responsibility