Rinitis alergi merupakan peradangan kronis pada mukosa hidung yang sering menurunkan kualitas hidup, terutama akibat gejala hidung tersumbat yang banyak dialami oleh usia produktif seperti mahasiswa. Irigasi nasal direkomendasikan sebagai terapi non-farmakologis untuk membantu mengurangi gejala tersebut, namun bukti ilmiah mengenai efektivitasnya masih menunjukkan hasil yang bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh irigasi nasal terhadap derajat hidung tersumbat pada penderita rinitis alergi. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan rancangan post-test control group design. Subjek penelitian terdiri dari 56 mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung angkatan 2022 hingga 2024 yang terdiagnosis rinitis alergi berdasarkan kuesioner Score for Allergic Rhinitis. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang memperoleh irigasi nasal menggunakan larutan NaCl 0,9 persen selama 14 hari dan kelompok kontrol tanpa irigasi nasal. Kedua kelompok tetap mendapatkan terapi antihistamin oral cetirizine. Derajat hidung tersumbat dinilai secara subjektif menggunakan kuesioner Nasal Obstruction Symptom Evaluation setelah intervensi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata derajat hidung tersumbat pada kedua kelompok berada pada kategori ringan dan tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan nilai p sebesar 0,692. Disimpulkan bahwa irigasi nasal tidak terbukti berpengaruh terhadap derajat hidung tersumbat pada mahasiswa penderita rinitis alergi.