Rinitis alergi (RA) dengan gejala bersin paroksismal memiliki prevalensi yang cukup tinggi pada dewasa muda, khususnya mahasiswa, dan sering menimbulkan gangguan terhadap produktivitas akademik serta kualitas hidup penderita. Irigasi hidung merupakan salah satu terapi non-farmakologis yang bersifat aman, murah, dan mudah dilakukan, dengan tujuan membersihkan mediator inflamasi yang berperan dalam timbulnya gejala rinitis alergi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh irigasi hidung terhadap perbaikan gejala bersin pada penderita rinitis alergi. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan rancangan post test control group design. Skrining awal dilakukan terhadap 600 mahasiswa menggunakan kuesioner Score for Allergic Rhinitis (SFAR), dan diperoleh 127 mahasiswa (21,1%) yang memenuhi kriteria rinitis alergi. Berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 56 subjek dipilih dan dibagi secara acak menjadi dua kelompok yang sama besar, yaitu kelompok intervensi (n=28) yang diberikan terapi irigasi hidung dan kelompok kontrol (n=28). Penilaian gejala bersin dilakukan menggunakan kuesioner Rhinitis Control Assessment Test (RCAT). Analisis data dilakukan dengan uji statistik non-parametrik Mann–Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia lebih dari 20 tahun dan berjenis kelamin perempuan. Rerata skor RCAT pasca perlakuan pada kelompok intervensi (23,45) secara bermakna lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol (33,55). Hasil uji Mann–Whitney menunjukkan nilai p<0,05, yang menandakan adanya perbedaan bermakna antara kedua kelompok. Dengan demikian, irigasi hidung terbukti efektif dalam memperbaiki gejala bersin pada mahasiswa dengan rinitis alergi dan dapat direkomendasikan sebagai terapi perawatan mandiri untuk mengontrol gejala rinitis alergi.