Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya Kapitasi Berbasis Kinerja (KBK) dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional untuk meningkatkan mutu dan efisiensi pelayanan primer melalui capaian indikator Angka Kontak (AK), Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non-Spesialistik (RRNS), dan Rasio Peserta Prolanis Terkendali (RPPT). Di Kabupaten Bombana, RRNS telah mencapai target nasional, namun AK dan RPPT masih rendah, sehingga perlu dianalisis keterkaitannya dengan efektivitas sistem rujukan dan kinerja pelayanan primer. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi KBK pada Puskesmas Kabupaten Bombana. Metode yang digunakan adalah kuantitatif non-eksperimental dengan pendekatan deskriptif terhadap data sekunder Januari sampai Juni 2024 dari 22 Puskesmas, BPJS Kesehatan, dan Dinas Kesehatan, menggunakan total sampling serta analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan RRNS sebesar 1,23 persen telah memenuhi target, sedangkan AK 60,51 per mil dan RPPT 1,17 persen belum memenuhi target nasional. Evaluasi sistem rujukan menunjukkan empat dari delapan aspek telah sesuai prosedur, sementara kendala utama meliputi faktor geografis, transportasi, keterbatasan SDM, dan sarana prasarana. Disimpulkan bahwa implementasi KBK telah berjalan, tetapi belum optimal, sehingga diperlukan penguatan akses, SDM, sistem rujukan, komunikasi medis, dan pencatatan layanan secara terintegrasi. Perbaikan tersebut diharapkan meningkatkan fungsi gatekeeper Puskesmas, memperluas layanan promotif preventif, memperbaiki pengelolaan Prolanis, dan mendorong pencapaian kapitasi yang lebih optimal, adil, dan berkelanjutan.