Novel sebagai salah satu bentuk media massa tidak terlepas dari ideologi penulisnya. Oleh karena itu, sebuah novel pastilah memiliki banyak makna tersembunyi dibalik kalimat-kalimat yang tertulis di dalamnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis relasi kuasa serta sejarah Orde Baru yang ditampilkan dalam novel Laut Bercerita berdasarkan arkeologi pengetahuan Michel Foucault dan Discource Historical Approach (DHA) Ruth Wodak. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan tipe deskriptif, sementara teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel bukan hanya sekadar karya sastra yang mengisahkan tragedi penghilangan paksa pada masa akhir Orde Baru, tetapi juga menjadi representasi relasi kuasa yang bekerja melalui praktik pengawasan, kontrol, penindasan, serta produksi wacana oleh negara terhadap warganya. Melalui kerangka Analisis Wacana Kritis Michel Foucault, novel ini memperlihatkan bagaimana rezim Orde Baru membangun dan mempertahankan kekuasaannya melalui mekanisme disiplin, hukuman, dan manipulasi pengetahuan. Sementara pendekatan Ruth Wodak yang berfokus pada konteks historis dan sosial mengungkap bahwa wacana dalam novel ini erat kaitannya dengan peristiwa nyata sejarah Indonesia, khususnya praktik penyiksaan dan penghilangan paksa terhadap aktivis pro-demokrasi pada periode 1997-1998. Laut Bercerita mendokumentasikan ingatan kolektif tentang kekerasan negara yang selama bertahun-tahun direpresi dan disembunyikan, sekaligus menunjukkan bagaimana wacana perlawanan muncul dari kelompok yang tertindas. Oleh karena itu, peneliti menyimpulkan bahwa Laut Bercerita berhasil menjadi medium resistensi sekaligus arsip kultural yang mengungkap relasi kuasa dan pelanggaran HAM pada akhir rezim Orde Baru. Novel ini menunjukkan bahwa kuasa tidak pernah tunggal sebab selalu terdapat wacana tandingan yang muncul melalui ingatan, cerita, dan keberanian untuk bersaksi.