Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS CITRA PEREMPUAN DAN IDEOLOGI PATRIARKI DALAM NOVEL PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN Siagian, Nurianti; Sianturi, Monalisa Frince
LANGUAGE : Jurnal Inovasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/language.v6i1.9304

Abstract

The novel Perempuan Berkalung Sorban by Abidah El Khalieqy presents a complex portrayal of women’s lives in an Islamic boarding school environment that is strongly influenced by patriarchal ideology. This article aims to analyze the image of women and the forms of patriarchal ideology represented through the female characters in the novel, particularly the character Annisa. This study employs a descriptive qualitative method using a feminist literary criticism approach. The data were obtained through an intensive reading of the novel and collected in the form of relevant quotations, which were then classified according to the focus of the analysis. The findings show that the image of women in the novel is depicted as oppressed, obedient, and restricted in their freedom; however, at the same time, women are also portrayed as developing into critical, progressive individuals who dare to resist injustice. Patriarchal ideology is represented through power relations within the family, forced marriage practices, restrictions on women’s education, verbal and physical violence, as well as the use of gender-biased religious interpretations. The novel not only reflects the reality of gender inequality but also serves as a medium of social criticism against patriarchal structures and highlights women’s struggles to gain freedom and equality. ABSTRAK Novel Perempuan Berkalung Sorban karya Abidah El Khalieqy menghadirkan gambaran kompleks mengenai kehidupan perempuan dalam lingkungan pesantren yang masih kuat dipengaruhi oleh ideologi patriarki. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis citra perempuan serta bentuk-bentuk ideologi patriarki yang direpresentasikan melalui tokoh-tokoh perempuan dalam novel tersebut, khususnya tokoh Annisa. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kritik sastra feminis. Data diperoleh melalui pembacaan intensif terhadap teks novel, kemudian dikumpulkan dalam bentuk kutipan-kutipan yang relevan dan diklasifikasikan sesuai fokus kajian. Hasil analisis menunjukkan bahwa citra perempuan dalam novel digambarkan sebagai sosok yang tertindas, patuh, dan dibatasi ruang geraknya, namun pada saat yang sama juga berkembang menjadi pribadi yang kritis, progresif, serta berani melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan. Ideologi patriarki ditampilkan melalui relasi kuasa dalam keluarga, praktik perkawinan paksa, pembatasan pendidikan perempuan, kekerasan verbal maupun fisik, serta penggunaan tafsir agama yang bias gender. Novel ini tidak hanya menggambarkan realitas ketimpangan gender, tetapi juga menjadi media kritik sosial terhadap struktur patriarki dan bentuk perjuangan perempuan dalam memperoleh kebebasan serta kesetaraan.
Analisis Unsur Retorika dalam Novel “Moga Bunda Disayang Allah” Karya  Tere Liye: Pendekatan  Stilistika: Analysis of Rhetorical Elements in Tere Liye’s Novel Moga Bunda Disayang Allah: A Stylistic Approach  Aritonang, Lentauly; Try Vya Sipayung; Siagian, Nurianti; Gusar, Martuah Reynhat Sitanggang
Boraspati Journal: Journal of Bilingualism, Organization, Research, Articles, Studies in Pedagogy, Anthropology, Theory, and Indigenous Cultures Vol. 2 No. 3 (2026): VOLUME 2 NUMBER 3 Juni 2026
Publisher : PT. Batak Story Pedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64674/boraspatijournal.v2i3.55

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis fungsi retoris perangkat stilistika sebagai instrumen internalisasi nilai kemanusiaan dalam novel Moga Bunda Disayang Allah karya Tere Liye. Masalah utama yang dikaji adalah bagaimana strategi kebahasaan digunakan untuk menjembatani keterbatasan sensoris tokoh utama dalam narasi disabilitas. Penelitian kualitatif deskriptif ini menggunakan pendekatan stilistika fungsional untuk membedah ranah mikro lingual yang meliputi aspek leksikal, sintaksis, dan retoris. Hasil penelitian menunjukkan adanya mekanisme “Stilistika Substitutif” yang secara sistematis menutupi jurang sensoris tokoh melalui sinergi diksi afektif, majas perbandingan, dan arsitektur sintaksis staccato. Gaya bahasa dalam novel ini tidak sekadar berfungsi sebagai ornamen estetis, melainkan bertindak sebagai teknologi naratif yang memobilisasi pathos guna menciptakan emosi vikarius pada pembaca. Pola kalimat pendek dan repetisi fungsional ditemukan berperan sebagai pengendali ritme psikologis yang memperkuat kredibilitas moral (ethos) tokoh secara intuitif. Simpulan penelitian menegaskan bahwa analisis stilistika fungsional dalam novel MBDA membuktikan peran bahasa sebagai jembatan kognitif dan agen internalisasi nilai kemanusiaan melalui kekuatan afeksi yang terencana.
Analisis Maksim Kesopanan Dalam Konten Tiktok Kabinet Dagelan : Presiden Ke 8 Di Negeri Wakanda Purba, Evin Rohmahaldo; Panjaitan, Agust Furi Kartika; Sihombing, Putri L; Siagian, Nurianti; Ginting, Dahlia Harmonista; Hasibuan, Sari
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v6i1.2944

Abstract

Penelitian ini membahas penerapan prinsip kesopanan berbahasa dalam komentar warganet pada konten TikTok Kabinet Dagelan berjudul “Presiden Ke-8 di Negeri Wakanda” yang memuat kritik dengan gaya bahasa sarkasme. Fenomena ini menarik karena kritik kerap disalahpahami sebagai bentuk kebencian, sementara gaya bahasa sarkastik berpotensi menimbulkan ambiguitas makna. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dan teknik pengumpulan data baca-catat terhadap komentar yang muncul pada periode 8 Mei 2024–8 Agustus 2025, penelitian ini menganalisis enam maksim kesopanan menurut Leech, yaitu maksim kebijaksanaan, kedermawanan, penghargaan, kesederhanaan, permufakatan, dan kesimpatian. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun konten yang dikomentari bernuansa kritik tajam dan sarkastik, sebagian besar warganet tetap menggunakan strategi kesantunan melalui nasihat halus, pujian, dukungan, kerendahan hati, persetujuan, dan simpati. Kemunculan keenam maksim secara berimbang mengindikasikan bahwa komunikasi di ruang digital tidak sepenuhnya didominasi oleh ekspresi negatif, melainkan juga menunjukkan upaya menjaga harmoni sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa sarkasme dalam kritik tidak selalu meniadakan kesantunan, selama penuturnya tetap menerapkan prinsip komunikasi yang mempertimbangkan dampak terhadap lawan tutur.