AbstrakKelompok Among Tani Kawang di Desa Labanasem sejak tahun 2021 menghadapi tantangan dalam pengelolaan kotoran kambing yang terus menumpuk serta ketergantungan terhadap pupuk kimia. Menyikapi hal tersebut, ketua kelompok mendorong terwujudnya sistem pertanian dan peternakan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan mampu meningkatkan produktivitas. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas dan kemandirian kelompok dalam mengelola limbah peternakan secara efisien dan bernilai guna. Kegiatan dilaksanakan melalui empat tahapan, yaitu koordinasi, pelaksanaan, evaluasi, dan keberlanjutan. Hasil pelaksanaan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman peserta terhadap proses pembuatan pupuk organik, didukung oleh metode pelatihan yang komunikatif serta penggunaan alat penggiling kotoran ternak yang mempercepat proses produksi. Hasil kuisioner menunjukan kegiatan ini bermanfaat dan aplikatif dalam mendukung pertanian ramah lingkungan. Harapannya, program ini memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dengan dukungan pemerintah desa dan kolaborasi lintas sektor. Disarankan dilakukan uji laboratorium terhadap pupuk yang dihasilkan untuk mengetahui kandungan unsur hara secara lebih akurat, sebagai dasar peningkatan kualitas dan daya saing produk. Kata kunci: pengabdian masyarakat; kelompok tani; pupuk organik; desa labanasem; pertanian berkelanjutan. AbstractSince 2021, the Among Tani Kawang group in Labanasem Village has faced challenges in managing the accumulation of goat manure and dependence on chemical fertilizers. In response, the group leader initiated the development of an integrated and sustainable farming–livestock system aimed at improving productivity. This community service program was designed to strengthen the group’s capacity and independence in managing livestock waste efficiently and productively, implemented through four stages: coordination, execution, evaluation, and sustainability. The results demonstrated a significant increase in participants’ understanding of organic fertilizer production, supported by interactive training methods and the use of a manure grinder that accelerated processing. Questionnaire findings confirmed the program’s benefits and practical applicability in promoting environmentally friendly agriculture, while highlighting its potential for further development through village government support and cross‑sector collaboration. Laboratory testing of the produced fertilizer is recommended to determine nutrient content more accurately, providing a foundation for enhancing product quality and competitiveness. Keywords: community service; farmer group; organic fertilizer; labanasem village; sustainable agriculture.