Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Nasi Tutug Oncom Sebagai Ikon Kuliner Tasikmalaya: Analisis Potensi dan Strategi Pengembangan Pariwisata Kuliner Melalui Systematic Literature Review Panggabean, Arthanami Nauli; Wisand, Rania Cundamanik; Sias, Rycho Nur Nirbita; Suharto, ⁠Bambang
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 6 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9747

Abstract

Latar Belakang: Warisan kuliner lokal memainkan peran penting dalam pengembangan pariwisata daerah dan pembentukan identitas budaya. Nasi Tutug Oncom, hidangan tradisional dari Tasikmalaya, Jawa Barat, memiliki karakteristik unik yang berpotensi menjadi ikon kuliner, namun masih relatif belum dikenal oleh khalayak luas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi Nasi Tutug Oncom sebagai produk unggulan kuliner dalam pengembangan pariwisata gastronomi Tasikmalaya dan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi transformasinya menjadi ikon kuliner daerah. Metode: Penelitian ini menggunakan metodologi Systematic Literature Review (SLR) mengikuti pedoman PRISMA. Literatur dicari secara sistematis dari jurnal terindeks Scopus dan database Google Scholar periode 2014-2024, dengan fokus pada pengembangan pariwisata kuliner, branding makanan lokal, dan warisan gastronomi. Sebanyak [X] artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis menggunakan pendekatan sintesis tematik. Hasil: Analisis mengidentifikasi empat tema utama: (1) karakteristik unik Nasi Tutug Oncom yang mendukung potensi ikoniknya, (2) faktor keberhasilan produk kuliner lokal dalam pengembangan pariwisata, (3) tantangan dalam mempromosikan makanan tradisional yang kurang dikenal, dan (4) kerangka strategis untuk branding kuliner. Temuan kunci menunjukkan bahwa autentisitas, narasi budaya, pemasaran strategis, dan kolaborasi pemangku kepentingan merupakan faktor kritis dalam mentransformasi hidangan lokal menjadi ikon regional. Kesimpulan: Nasi Tutug Oncom menunjukkan potensi signifikan sebagai ikon kuliner Tasikmalaya melalui metode penyajian yang unik, signifikansi budaya, dan profil rasa yang autentik. Namun, strategi promosi sistematis, peningkatan aksesibilitas, dan pengembangan pariwisata terintegrasi sangat penting untuk mencapai tujuan ini.
Mengelola Otentisitas di Tengah Regulasi: Strategi Adaptasi Pariwisata Gastronomi Terhadap Kebijakan Pembangunan Daerah Sias, Rycho Nur Nirbita; Fazrin, Farah Azirinda; Abdillah, Muhammad Rizki; Reindrawati, Dian Yulie; ‘Aini, Tazkia Qurrota
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 6 No. 6 (2025): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v6i6.9774

Abstract

Wisata gastronomi telah menjadi instrumen vital bagi pembangunan ekonomi daerah; namun, implementasi kebijakan dan standardisasi pembangunan fisik seringkali berbenturan dengan nilai-nilai tradisional setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi adaptasi para pemangku kepentingan wisata gastronomi dalam merespons tekanan kebijakan publik dan modernisasi. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan, penelitian ini mengkaji berbagai kasus di Indonesia, seperti Yogyakarta, Palu, dan Manggarai, melalui perspektif teori autentisitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para pemangku kepentingan beradaptasi melalui tiga dimensi utama: (1) Keaslian Objektif, dengan menjaga kemurnian bahan di tengah peraturan kebersihan yang ketat; (2) Keaslian Konstruktif, dengan membangun narasi dan simbol yang selaras dengan pencitraan kota; dan (3) Keaslian Eksistensial, dengan menciptakan pengalaman partisipatif yang melibatkan wisatawan secara emosional. Kesimpulannya, keberhasilan wisata gastronomi tidak hanya bergantung pada infrastruktur tetapi juga pada keseimbangan antara regulasi pemerintah dan pelestarian identitas lokal untuk memastikan keberlanjutan budaya dan manfaat ekonomi yang adil.