Di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, Keterampilan 4C (Communication, Collaboration, Creaticity, dan Critical Thinking) memiliki peran utama dalam pengembangan kompetensi Generasi Z. Namun, di antara keempat keterampilan tersebut, keterampilan berpikir kritiis memiliki peran paling signifikan dalam membantu generasi Z menghadapi kompleksitas dan perubahan yang cepat. Teknologi yang berkembang pesat dan perubahan juga menuntut Generasi Z untuk berpikir kritis karena mampu membantu dalam memahami dan mengeavulasi informasi serta tantangan dan pengambilan keputusan yang tepat dalam situasi yang beragam. Sedangkan perubahan adalah hal yang lumrah terjadi kapanpun.Maka dari itu, diperlukannya hal yang dapat mengatur perubahan tersebut agar menjadi lebih terorganisir dan mencapai tujuan dari suatu organisasi atau perusahaan. Hal itulah yang disebut Manajemen Perubahan. Dalam perubahan pasti terjadi penolakan baik secara individu maupun kelompok dalam sebuah organisasi atau perusahaan.Dibutuhkannya manajemen resistensi yang terjadi didalam organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran berpikir kritis dalam mengatasi resistensi terhadap perubahan organisasi sebagai bagian integral dari manajemen perubahan organisasi. Dengan menggunakan metode studi literatur, penelitian ini mengidentifikasi bahwa berpikir kritis berkontribusi signifikan dalam mengatasi resistensi terhadap perubahan organisasi. Studi ini menunjukkan bahwa kemampuan berpikir kritis memungkinkan organisasi untuk merespons perubahan secara lebih efektif dan menghasilkan solusi inovatif yang relevan dengan perkembangan yang ada. Kesimpulan dari penelitian ini menggarisbawahi pentingnya pengembangan keterampilan berpikir kritis dalam organisasi untuk mendukung keberlanjutan dan daya saing di era perubahan yang dinamis. Kata Kunci : Manajemen, Perubahan, Resistensi, Generasi Gen Z