Masa awal pernikahan merupakan fase transisi yang krusial dalam kehidupan pasangan, ditandai dengan penyesuaian terhadap peran baru, pola interaksi, serta dinamika emosional yang lebih intens. Pada periode ini, pasangan sering menghadapi konflik dan ketegangan sebagai bagian dari proses adaptasi terhadap perbedaan karakter, kebutuhan, dan ekspektasi masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pola attachment terhadap penyesuaian emosional pasangan pada masa awal pernikahan serta menjelaskan mekanisme psikologis yang mendasari hubungan tersebut. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka (literature review) dengan menelaah berbagai teori dan hasil penelitian empiris mengenai attachment, regulasi emosi, dan penyesuaian pernikahan. Hasil kajian menunjukkan bahwa secure attachment berkontribusi positif terhadap kemampuan regulasi emosi, keterbukaan komunikasi, dan efektivitas penyelesaian konflik, sehingga mendukung terciptanya penyesuaian emosional yang adaptif. Sebaliknya, anxious attachment dan avoidant attachment cenderung berkorelasi dengan kesulitan dalam mengelola emosi, meningkatnya kecemasan relasional, kecenderungan menarik diri, serta pola komunikasi yang kurang konstruktif. Bahwa secure attachment mendukung regulasi emosi yang adaptif, komunikasi terbuka, dan penyelesaian konflik yang konstruktif, sehingga memperkuat penyesuaian emosional. Sebaliknya, anxious dan avoidant attachment berkaitan dengan disregulasi emosi, kecemasan relasional, serta pola komunikasi maladaptif yang menghambat adaptasi pernikahan. Dengan demikian, attachment memengaruhi penyesuaian emosional pada masa awal pernikahan. Secure attachment mendukung adaptasi yang lebih sehat, sedangkan anxious dan avoidant attachment berpotensi menghambatnya. Regulasi emosi berfungsi sebagai mekanisme kunci yang menjembatani pengaruh attachment terhadap penyesuaian emosional.