Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia secara global dan nasional mendorong berkembangnya senior tourism sebagai salah satu segmen pariwisata yang strategis. Meskipun Yogyakarta dikenal sebagai destinasi wisata budaya dan edukatif yang potensial bagi wisatawan lansia, kajian empiris dan konseptual mengenai kesiapan fasilitas serta layanan wisata ramah lansia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa potensi dan merumuskan strategi pengembangan senior tourism di Yogyakarta dengan menelaah kesiapan fasilitas dan layanan pada tiga destinasi wisata budaya dan sejarah, yaitu Museum Sonobudoyo, Benteng Vredeberg, dan Monumen Jogja Kembali. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis konseptual dengan dukungan observasi eksploratif lapangan dan studi literatur. Analisis didasarkan pada kerangka age-friendly tourism yang mencakup dimensi aksesibilitas fisik, layanan sosial-emosional, serta dukungan manajemen dan kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga destinasi tersebut memiliki potensi tinggi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata ramah lansia, namun tingkat kesiapan fasilitas dan layanan masih bersifat parsial dan belum terintegrasi dalam strategi pengelolaan destinasi. Kontribusi utama penelitian ini adalah pengembangan pendekatan konseptual integratif berbasis budaya, rekreasi, dan wellness sebagai model pengembangan aktivitas senior tourism di Yogyakarta. Hasil penelitian ini juga memberikan kontribusi teoretis pada kajian pariwisata inklusif serta implikasi praktis bagi pengelola destinasi dan perumus kebijakan pariwisata Sonobudoyo, Benteng Vredeburg, dan Monumen Jogja Kembali.