Integrasi budaya lokal dalam layanan hotel merupakan strategi penting untuk menciptakan pengalaman tamu yang autentik sekaligus memperkuat identitas destinasi. Namun, praktik perhotelan di Jakarta masih didominasi pendekatan layanan modern-global, sementara nilai budaya Betawi umumnya hanya dihadirkan secara simbolik melalui dekorasi dan elemen visual. Kesenjangan riset muncul karena belum adanya kajian yang secara sistematis mengintegrasikan nilai-nilai budaya Betawi ke dalam Standar Operasional Prosedur (SOP) pelayanan hotel yang aplikatif. Oleh karena itu, rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana mengidentifikasi nilai budaya Betawi yang relevan dengan praktik hospitality modern serta merumuskannya ke dalam model SOP berbasis kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan merancang model SOP Hospitality Ramah Budaya (Betawi Values) melalui pendekatan kualitatif deskriptif-eksploratif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion (FGD) di dua hotel di Jakarta dan satu pusat budaya Betawi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian mengidentifikasi empat nilai utama budaya Betawi—kesantunan, gotong royong, keterbukaan, dan musyawarah—yang dioperasionalkan ke dalam SOP melalui lima tahapan: identifikasi nilai, seleksi nilai, perumusan SOP per divisi, pelatihan dan implementasi, serta evaluasi berkala. Temuan menunjukkan bahwa SOP berbasis budaya Betawi mampu menciptakan layanan yang lebih personal, hangat, dan autentik tanpa mengabaikan standar profesional hospitality. Keterbatasan penelitian ini terletak pada ruang lingkup lokasi yang terbatas dan belum mengukur dampak kuantitatif terhadap kepuasan tamu. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas objek studi dan mengombinasikan pendekatan kuantitatif guna menguji efektivitas model SOP secara empiris.