Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Hubungan Kadar Hemoglobin (Hb) Dan Zat Besi (Fe) Sebagai Determinan Derajat Keparahan Gagal Ginjal Kronik Deka yana, Arlitha; Fatimah; Aznawie, Amirah; Ruly; Darmo, Kasmuddin; Nurhilaliyah
HEALTH SCIENCE & BIOMEDICAL JOURNAL Vol. 1 No. 3 (2025): Desember 2025 : Health Science & Biomedical Journal (HSBJ)
Publisher : Literasi Indonesia Emas (PT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Gagal ginjal kronik merupakan penyakit progresif yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus selama ≥3 bulan dan berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas global. Disfungsi ginjal menyebabkan penurunan produksi eritropoietin serta disregulasi metabolisme zat besi akibat peningkatan hepsidin, yang berujung pada anemia. Gangguan hematologis ini diduga berperan dalam progresivitas dan peningkatan derajat keparahan penyakit.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kadar hemoglobin dan zat besi sebagai determinan derajat keparahan gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan.Metode:Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 40 pasien gagal ginjal kronik stadium G3b–G5 berdasarkan klasifikasi KDIGO di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba periode Mei–Juni 2025. Pemeriksaan hemoglobin dilakukan menggunakan hematology analyzer Sysmex XN-350 dan kadar zat besi serum menggunakan autoanalyzer Pentra C400. Analisis data meliputi uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, uji korelasi Pearson atau Spearman, serta uji komparatif Anova dan Kruskal–Wallis dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Rata-rata kadar hemoglobin adalah 8,88±2,28 g/dL dan kadar zat besi 62,95±35,99 µg/dL. Hemoglobin menunjukkan korelasi positif lemah dengan laju filtrasi glomerulus (r=0,281; p=0,079), sedangkan zat besi menunjukkan korelasi negatif lemah (r=-0,206; p=0,222). Perbedaan kadar hemoglobin antar stadium tidak signifikan (p=0,633). Sebaliknya, kadar zat besi menunjukkan perbedaan bermakna antar stadium (p=0,007). Kesimpulan: Zat besi merupakan parameter yang lebih sensitif dalam membedakan derajat keparahan gagal ginjal kronik dibandingkan hemoglobin. Pemantauan parameter hematologis secara rutin penting dalam evaluasi progresivitas penyakit.