Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS SEDIMEN DAN KADAR PROTEIN URIN SEBAGAI SKRINING INFEKSI SALURAN KEMIH PADA IBU HAMIL Akbar, Arlitha; Darmo, Kasmuddin; -, Devilda; Paharu, Kabah; Aznawi, Amirah
Jurnal Kebidanan Khatulistiwa Vol 9, No 1 (2023): Jurnal Kebidanan Khatulistiwa
Publisher : Poltekkes Kemenkes Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30602/jkk.v9i1.1143

Abstract

Latar Belakang: Infeksi saluran kemih (ISK) adalah jenis infeksi yang paling umum selama kehamilan dan merupakan faktor risiko penyebab ketuban pecah dini. Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban sebelum waktunya, insiden di Indonesia tahun 2018 sebanyak 6% dari total kelahiran. Tujuan : Apakah pemeriksaan sedimen dan protein urine pada ibu hamil dapat membantu dalam pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran kemih secara dini Metode: Desain penelitian menggunakan deskriptif analitik dengan teknik sampling purposive sampling. Populasi sampel adalah semua ibu hamil yang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas Minasaupa. Lokasi dan waktu penelitian dilaksanakan di Puskesmas Minasaupa  Kota Makassar pada bulan Maret – April 2022. Hasil: pemeriksaan sedimen urin ibu hamil dari 25 sampel, menunjukan adanya unsur-unsur organik yaitu sel leukosit (0-5/LPB) sebanyak 6 sampel (24%) , sel leukosit (>5) sebanyak 19 sampel dengan persentase (76%) Untuk sel eritrosit (0-3/LPB) sebanyak 25 sampel (100%), dan sel epitel (+1) sebanyak 7 sampel (28%), sel epitel (2+) sebanyak 12 sampel (48%), dan sel epitel (+3) yaitu sebnyak 6 sampel (24%). selanjutnya Pada pemeriksaan kadar protein urin dari 25 sampel, 24 sampel diantaranya menunjukan hasil Negatif (-) (96%) dan 1 menunjukan hasil Positif (+) (4%). Kesimpulan: Pemeriksaan sedimen dan protein urine pada ibu hamil dapat membantu dalam pencegahan dan penanggulangan infeksi saluran kemih secara dini
DETEKSI Non Tuberculosis Mycobacteria SAMPEL SPUTUM SUSPEK TUBERKULOSIS DENGAN TARGET GEN 16S rRNA Darmo, Kasmuddin; Eliyana, Eliyana; Dekayana, Arlitha
Jurnal Analis Kesehatan Kendari Vol. 6 No. 2 (2024): Jurnal Analis Kesehatan Kendari (JAKK) : Vol. 6 (2) Juni 2024)
Publisher : Program Study of Medical Laboratory Technology , Politeknik Bina Husada Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46356/jakk.v6i2.301

Abstract

Tuberkulosis tidak hanya disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis akan tetapi tuberkulosis juga dapat terjadi karena beberapa infeksi dari bakteri Non Tuberculosis Mycobacteria. Penularan Non Tuberkulosis Mycobacteria pada manusia terutama didapat dari lingkungan, meskipun cara penularannya masih belum jelas. Kondisi kesehatan yang mendasari, seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), pneumokoniosis, bronkiektasis, riwayat TBC sebelumnya, fibrosis pasca radioterapi, aspirasi paru kronik, cystic fibrosis (CF), defisiensi imun, infeksi HIV, alkoholisme, kanker, dan diabetes melitus (DM) menimbulkan risiko signifikan terhadap infeksi dari bakteri Non Tuberculosis Mycobacteria. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeteksi adanya Non Tuberculosis Mycobacteria dari sampel sputum suspek tuberkulosis dengan target gen 16 rRNA dengan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Pengumpulan data hasil PCR berupa pita-pita DNA didokumentasikan dan ditentukan ukuran pasang basa gen 16S rRNA target 506 bp untuk mendeteksi Non Tuberculosis Mycobacteria, rv0577 target 705 bp untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis complex dan RD9 target 369 bp untuk mendeteksi Mycobacterium tuberculosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 15 sampel sputum suspek tuberkulosis, didapatkan 10 (66%) sampel positif yang teridentifikasi Non Tuberculosis Mycobacteria dan 1 (6%) sampel yang terdeteksi 3 jenis Mycobacterium yaitu Non Tuberculosis Mycobacteria, Mycobacterium tuberculosis complex, dan Mycobacterium tuberculosis Key words: berisi 3 - 5 kata kunci (Non Tuberculosis Mycobacteria, gen 16 rRNA, Polymerase Chain Reaction.).
Hubungan Kadar Hemoglobin (Hb) Dan Zat Besi (Fe) Sebagai Determinan Derajat Keparahan Gagal Ginjal Kronik Deka yana, Arlitha; Fatimah; Aznawie, Amirah; Ruly; Darmo, Kasmuddin; Nurhilaliyah
HEALTH SCIENCE & BIOMEDICAL JOURNAL Vol. 1 No. 3 (2025): Desember 2025 : Health Science & Biomedical Journal (HSBJ)
Publisher : Literasi Indonesia Emas (PT)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Gagal ginjal kronik merupakan penyakit progresif yang ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus selama ≥3 bulan dan berkontribusi terhadap peningkatan morbiditas dan mortalitas global. Disfungsi ginjal menyebabkan penurunan produksi eritropoietin serta disregulasi metabolisme zat besi akibat peningkatan hepsidin, yang berujung pada anemia. Gangguan hematologis ini diduga berperan dalam progresivitas dan peningkatan derajat keparahan penyakit.Tujuan: Untuk menganalisis hubungan kadar hemoglobin dan zat besi sebagai determinan derajat keparahan gagal ginjal kronik pada pasien rawat jalan.Metode:Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 40 pasien gagal ginjal kronik stadium G3b–G5 berdasarkan klasifikasi KDIGO di RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja Kabupaten Bulukumba periode Mei–Juni 2025. Pemeriksaan hemoglobin dilakukan menggunakan hematology analyzer Sysmex XN-350 dan kadar zat besi serum menggunakan autoanalyzer Pentra C400. Analisis data meliputi uji normalitas Kolmogorov–Smirnov, uji korelasi Pearson atau Spearman, serta uji komparatif Anova dan Kruskal–Wallis dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil: Rata-rata kadar hemoglobin adalah 8,88±2,28 g/dL dan kadar zat besi 62,95±35,99 µg/dL. Hemoglobin menunjukkan korelasi positif lemah dengan laju filtrasi glomerulus (r=0,281; p=0,079), sedangkan zat besi menunjukkan korelasi negatif lemah (r=-0,206; p=0,222). Perbedaan kadar hemoglobin antar stadium tidak signifikan (p=0,633). Sebaliknya, kadar zat besi menunjukkan perbedaan bermakna antar stadium (p=0,007). Kesimpulan: Zat besi merupakan parameter yang lebih sensitif dalam membedakan derajat keparahan gagal ginjal kronik dibandingkan hemoglobin. Pemantauan parameter hematologis secara rutin penting dalam evaluasi progresivitas penyakit.