Vicklan Lakoruhut
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perubahan Sosial Budaya Masyarakat Desa Kawasi Akibat Pembangunan Industri Nikel Di Obi Halmahera Selatan Vicklan Lakoruhut
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 2 (2026): Menulis - Februari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i2.1033

Abstract

Pembangunan di Indonesia didukung oleh sektor industri yang semakin banyak memanfaatkan teknologi canggih. Kondisi tersebut membawa berbagai konsekuensi berupa perubahan dalam kehidupan masyarakat, baik dari aspek sosial, ekonomi, maupun budaya. Proses industrialisasi yang didukung oleh teknologi modern mendorong terjadinya transformasi sosial yang memengaruhi sistem nilai, norma, serta pola kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, pembangunan industri nikel di Desa Kawasi menghadirkan berbagai unsur budaya luar yang bersifat modern, yang berpotensi memengaruhi nilai dan norma sosial budaya masyarakat setempat. Selain itu, pemanfaatan teknologi modern juga berdampak pada perubahan gaya hidup serta pola interaksi sosial masyarakat Desa Kawasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Tujuan selanjutnya adalah menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi perubahan sosial budaya masyarakat seiring dengan keberadaan industri nikel di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan berdasarkan natural setting atau kondisi alamiah, melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan sosial budaya masyarakat Desa Kawasi berlangsung dalam dua pola, yaitu perubahan yang terjadi secara cepat dan perubahan yang berlangsung secara lambat. Perubahan tersebut terutama dipengaruhi oleh perkembangan teknologi industri nikel serta meningkatnya jumlah penduduk akibat masuknya masyarakat pendatang dengan latar belakang budaya yang beragam. Dampak perubahan yang terjadi antara lain berkurangnya intensitas interaksi sosial antarmasyarakat, menurunnya solidaritas sosial, diversifikasi mata pencaharian yang semakin heterogen, serta meningkatnya mobilitas sosial masyarakat. Selain itu, perubahan budaya juga tampak pada penggunaan bahasa, pola berpakaian, dan gaya hidup masyarakat. Secara keseluruhan, temuan penelitian menunjukkan bahwa intensitas kontak sosial antara masyarakat lokal dan masyarakat pendatang telah memengaruhi kehidupan sosial budaya masyarakat Desa Kawasi, baik dalam aspek budaya, seperti sopan santun, bahasa, dan gaya hidup, maupun dalam aspek sosial, seperti relasi sosial, perilaku sosial, serta pola kerja sama masyarakat, khususnya praktik gotong royong.
Budaya Bacan dalam Dinamika Sosial Maritim: Nilai Adat dan Tantangan Modernisasi Kepulauan Bacan Vicklan Lakoruhut; Kalsum S Wandi; Mentari Yusnan; Safira Hasnawi; Astiara Siful; Rahmania Tambrin; Putri Moksan
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 2 (2026): Menulis - Februari
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i2.1036

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keragaman budaya yang sangat tinggi, yang terbentuk melalui interaksi panjang antara kondisi geografis, sejarah lokal, dan dinamika sosial masyarakat. Salah satu wilayah dengan kekayaan budaya berbasis maritim adalah Kepulauan Bacan di Kabupaten Halmahera Selatan, Provinsi Maluku Utara. Masyarakat Bacan hidup dalam konteks kepulauan dan pesisir, sehingga laut menjadi ruang utama kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Budaya Bacan berkembang sebagai hasil adaptasi jangka panjang masyarakat terhadap lingkungan alam, sekaligus dipengaruhi oleh sejarah Kesultanan Bacan yang berperan penting dalam pembentukan struktur sosial, sistem adat, dan tata nilai masyarakat. Namun, dalam konteks modernisasi, globalisasi, dan perubahan sosial ekonomi, budaya Bacan menghadapi berbagai tantangan yang berpotensi memengaruhi keberlanjutan nilai-nilai tradisional dan praktik adat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam budaya Bacan dalam dinamika sosial masyarakat maritim, dengan fokus pada nilai-nilai budaya, filsafat sosial dan moral, hukum adat, relasi manusia dan alam, serta tantangan modernisasi dan upaya pelestarian budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman kontekstual mengenai makna dan praktik budaya Bacan sebagaimana dipahami oleh masyarakat setempat. Data penelitian bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, masyarakat, dan generasi muda Bacan, serta observasi langsung terhadap praktik adat dan kehidupan sosial masyarakat. Data sekunder dikumpulkan melalui studi literatur, arsip, dan dokumen yang berkaitan dengan sejarah, adat, dan budaya Bacan. Analisis data dilakukan secara kualitatif deskriptif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara simultan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya Bacan merupakan sistem sosial yang hidup dan dinamis, yang berakar pada nilai kebersamaan, gotong royong, toleransi, religiusitas, serta etika lingkungan. Gotong royong berfungsi sebagai fondasi relasi sosial dan mekanisme integrasi masyarakat kepulauan, sementara nilai persatuan dalam keberagaman menjadi modal sosial penting dalam menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat. Hukum adat Bacaan, termasuk praktik sasi, tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengaturan pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga sebagai sistem nilai moral yang menanamkan kesadaran kolektif akan tanggung jawab terhadap lingkungan dan komunitas. Pendidikan adat berlangsung secara informal dan holistik melalui keluarga, tradisi, cerita rakyat, serta peran tokoh adat sebagai otoritas moral. Di tengah arus modernisasi, masyarakat suku Bacaan tidak sepenuhnya menolak perubahan, tetapi melakukan adaptasi budaya yang kontekstual. Nilai-nilai dasar budaya tetap dipertahankan, sementara bentuk praktiknya menyesuaikan dengan perkembangan sosial dan ekonomi. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan budaya Bacaan bergantung pada keterlibatan aktif generasi muda, penguatan peran keluarga dan lembaga adat, integrasi budaya lokal dalam pendidikan formal, serta dukungan kebijakan pemerintah berbasis kearifan lokal. Dengan demikian, budaya Bacaan memiliki potensi besar sebagai sumber identitas, nilai etis, dan modal budaya dalam mendukung pembangunan sosial dan ekologis yang berkelanjutan di wilayah kepulauan.