Bullying merupakan salah satu permasalahan yang kerap muncul di lingkungan sekolah dasar dan dapat menghambat perkembangan sosial, emosional, maupun akademik peserta didik. Fenomena perundungan yang teridentifikasi di SDI Watujara, Kecamatan Ende Timur, menunjukkan perlunya intervensi edukatif yang terstruktur guna meningkatkan pemahaman siswa, guru, dan orang tua mengenai bentuk-bentuk bullying serta langkah pencegahannya. Kegiatan sosialisasi anti bullying ini bertujuan untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang konsep bullying, dampaknya terhadap perkembangan anak, serta strategi pengendalian yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Metode pelaksanaan meliputi observasi awal untuk memetakan kasus dan pola interaksi siswa, penyampaian materi melalui ceramah interaktif, pemutaran video edukatif, diskusi kelompok, dan simulasi peran, dilengkapi evaluasi berupa pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan siswa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pemahaman siswa mengenai jenis-jenis bullying, dengan persentase penguasaan materi naik dari kategori rendah ke tinggi berdasarkan hasil angket. Guru juga melaporkan adanya perubahan perilaku positif pada siswa dalam hal empati, kepedulian terhadap teman, serta keberanian melapor ketika melihat perilaku perundungan. Pembahasan hasil mengonfirmasi bahwa pendekatan sosialisasi interaktif efektif menumbuhkan kesadaran dan kemampuan siswa dalam mencegah serta menghentikan tindakan bullying. Kegiatan ini disimpulkan berhasil mencapai tujuan peningkatan pemahaman dan perubahan perilaku siswa menuju lingkungan sekolah yang lebih aman dan inklusif. Sebagai tindak lanjut, disarankan agar sekolah mengadakan program pembiasaan anti bullying secara berkesinambungan melalui penguatan peran guru, pembentukan duta siswa anti bullying, serta pelibatan orang tua dalam pemantauan perilaku anak di rumah maupun di sekolah sehingga budaya sekolah bebas bullying dapat terjaga secara berkelanjutan