Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Mumi Fir‘aun sebagai Bukti I‘jāz Ghaibī: Analisis QS. Yunus [10]: 92 dan Perspektif Arkeologi Maulana, Khomsa; Fikri Hidayat El Izat
At-Takwin: Journal of Islamic Education Studies Vol. 1 No. 2 (2025): December
Publisher : CV. Kayaswara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65097/at-takwin.v1i2.89

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena jasad Fir‘aun sebagai salah satu indikator i‘jāz ghaibī dalam Al-Qur’an dengan menitikberatkan pada QS. Yunus [10]: 92 yang menyatakan bahwa jasad Fir‘aun diselamatkan agar menjadi tanda bagi generasi setelahnya. Ayat ini mengandung dimensi pemberitaan ghaib yang berorientasi masa depan (ghaib mustaqbal), karena fungsi tandanya melampaui konteks sejarah Nabi Musa a.s. dan terus relevan bagi generasi berikutnya. Kajian ini berangkat dari problem akademik tentang bagaimana teks wahyu dipahami dalam dialog dengan temuan arkeologi modern tanpa mengaburkan metodologi tafsir. Penelitian menelaah struktur bahasa ayat, penafsiran para mufassir klasik dan kontemporer, serta pengembangan konsep i‘jāz ghaibī dalam studi ulūm al-Qur’an. Selain itu, dibahas pula data arkeologi Mesir kuno terkait praktik mumifikasi dan penemuan mumi para raja sebagai bahan refleksi komparatif. Kajian ini tidak menempatkan sains sebagai validator wahyu, melainkan sebagai media tadabbur yang memperluas pemahaman terhadap fungsi tanda dalam ayat. Hasil kajian menunjukkan bahwa redaksi penyelamatan jasad Fir‘aun memiliki kekuatan teologis, linguistik, dan tematik yang mendukung klasifikasi i‘jāz ghaibī kategori mustaqbal. Keberadaan jasad penguasa zalim sebagai bukti sejarah yang dapat disaksikan lintas generasi memperkuat dimensi ibrah Qur’ani. Integrasi tafsir dan temuan ilmiah, bila dilakukan secara metodologis, memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kajian i‘jāz tematik yang bertanggung jawab secara akademik
The Miracle of the Prophet Jonah in the Belly of a Whale Relevance of Qs. Al-Anbiya Verses 87-88 I'Jaz Ghaibi's Perspective Dinda Kartika; Fikri Hidayat El Izat
Tilawah: Journal of Al-Qur'an Studies Vol. 2 No. 2 (2026)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/tilawah.v2i2.53

Abstract

The story of the Prophet Yunus 'Alaihissalam in the Al-Qur'an surah QS. Al-Anbiya verses 87–88 contain spiritual lessons as well as showing the miracle of revelation. This research aims to analyze the miracle of the Prophet Yunus in the belly of a fish through the perspective of i'jaz ghaibi using literature study methods, thematic interpretation and balAghah analysis. The results of the study show that this verse contains supernatural miracles through the description of the condition of the Prophet Jonah in various darkness, prayers offered in secret, and the certainty of God's help. Apart from that, the beauty of the language of the Koran is visible through its concise and profound style of expression. This story also emphasizes the value of patience, repentance and submission to Allah and is a lesson for all believers.
I’jaz Ghaibi Dalam Kisah Ashabul Kahfi: Telaah Qs. Al-Kahf Ayat 25-26 Tentang Lama Tidur Sebagai Bukti Wahyu salsabila, riska ramadani; Fikri Hidayat El Izat
Millatuna: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 02 (2026): Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/mjsi.v3i02.11566

Abstract

Kisah Ashābul Kahfi dalam Surah Al-Kahf (QS. 18:25-26) mengungkapkan keajaiban i‘jāz ghaibī, yang menunjukkan mukjizat Allah melalui durasi tidur para pemuda beriman selama tiga ratus tahun ditambah sembilan tahun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena ghaib dalam kisah tersebut sebagai bukti kekuasaan Allah yang melampaui batas akal manusia. Menggunakan pendekatan library research, data dikumpulkan dari Al-Qur’an dan berbagai tafsir klasik serta kontemporer, termasuk Tafsir Al-Misbah dan Tafsir Al-Jalalayn. Pembahasan menguraikan latar belakang kisah, yang menyoroti keberanian iman para pemuda dalam menghadapi tirani pemimpin zalim dan pengasingan diri demi menjaga kemurnian aqidah. Selain itu, juga dianalisis aspek teologis dan pelajaran moral yang dapat diambil, seperti keteguhan iman, kekuasaan dan perlindungan Allah, serta konsekuensi dari penyembahan berhala. Kisah ini bukan hanya menjadi narasi sejarah, tetapi juga pelajaran penting bagi umat Muslim dalam mempertahankan keyakinan dan integritas di tengah tantangan zaman. Dengan demikian, kisah Ashābul Kahfi menjadi contoh nyata I’jaz ghaibi dan menegaskan bahwa pengetahuan akan hal-hal ghaib hanya berasal dari wahyu Ilahi.