Penelitian ini membahas fenomena jasad Fir‘aun sebagai salah satu indikator i‘jāz ghaibī dalam Al-Qur’an dengan menitikberatkan pada QS. Yunus [10]: 92 yang menyatakan bahwa jasad Fir‘aun diselamatkan agar menjadi tanda bagi generasi setelahnya. Ayat ini mengandung dimensi pemberitaan ghaib yang berorientasi masa depan (ghaib mustaqbal), karena fungsi tandanya melampaui konteks sejarah Nabi Musa a.s. dan terus relevan bagi generasi berikutnya. Kajian ini berangkat dari problem akademik tentang bagaimana teks wahyu dipahami dalam dialog dengan temuan arkeologi modern tanpa mengaburkan metodologi tafsir. Penelitian menelaah struktur bahasa ayat, penafsiran para mufassir klasik dan kontemporer, serta pengembangan konsep i‘jāz ghaibī dalam studi ulūm al-Qur’an. Selain itu, dibahas pula data arkeologi Mesir kuno terkait praktik mumifikasi dan penemuan mumi para raja sebagai bahan refleksi komparatif. Kajian ini tidak menempatkan sains sebagai validator wahyu, melainkan sebagai media tadabbur yang memperluas pemahaman terhadap fungsi tanda dalam ayat. Hasil kajian menunjukkan bahwa redaksi penyelamatan jasad Fir‘aun memiliki kekuatan teologis, linguistik, dan tematik yang mendukung klasifikasi i‘jāz ghaibī kategori mustaqbal. Keberadaan jasad penguasa zalim sebagai bukti sejarah yang dapat disaksikan lintas generasi memperkuat dimensi ibrah Qur’ani. Integrasi tafsir dan temuan ilmiah, bila dilakukan secara metodologis, memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kajian i‘jāz tematik yang bertanggung jawab secara akademik
Copyrights © 2025