Yanda, Gatralina Sekar Harum Ael
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Marriage Prohibition Between Sepande and Banjarpoh Residents: Perspectives of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah Almahdi, Tajuddin Nabil; Destiara, Sumi; Salsabila , Nisrina Ruliana; Nadhifah , Nurul Asiya; Yanda, Gatralina Sekar Harum Ael
Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam Vol. 5 No. 2 (2025): December
Publisher : Department of Comparative Mazhab Comparative, Fakulty of Shariah and Law

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/komparatif.v5i2.3131

Abstract

Abstract: The myth about the taboo of marriage between the residents of Sepande Village and Banjarpoh Hamlet in Sidoarjo is part of a local tradition that is believed to bring bad luck, disaster, and even death. Although the majority in the area are Muslims, this myth is still believed by some people to this day. This article examines the views of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah village scholars on the myth of the prohibition of marriage between the residents of Sepande Village and Banjarpoh Hamlet. This type of research is empirical research using a sociological approach. The research data was obtained through interviews, observations and documentation. The data was analyzed comparatively to compare the opinions of the two scholars. The results of this study show that Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah scholars agree against the myth of the prohibition of marriage between the people of Sepande and Banjarpoh, because they do not have a strong legal basis in Islam. According to the scholars of Nahdlatul Ulama, the myth is included in the category of 'urf fasid, which means it cannot be used as an argument (hujjah), but under certain conditions it can still be used socially as a form of prevention against non-kufu’ marriage for the sake of benefit. Meanwhile, Muhammadiyah scholars strongly reject all forms of myths that lack a basis in the Qur'an and Hadith. Keywords: Myths, prohibition of marriage, village scholar, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah. Abstrak: Mitos mengenai pantangan menikah antara warga Desa Sepande dan Dusun Banjarpoh di Sidoarjo merupakan bagian dari tradisi lokal yang diyakini dapat membawa kesialan, musibah, bahkan kematian. Meskipun mayoritas di daerah tersebut beragama Islam, tetapi mitos itu masih dipercaya sebagian masyarakat hingga saat ini. Artikel ini mengkaji tentang pandangan ulama desa  Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah terhadap mitos larangan menikah antara warga Desa Sepande dan Dusun Banjarpoh. Jenis penelitian ini adalah penelitian empiris dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data tersebut dianalisis secara komparatif untuk membandingkan dua pendapat ulama tersebut. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ulama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sepakat menentang mitos larangan pernikahan antara warga Sepande dan Banjarpoh, karena tidak memiliki landasan hukum yang kuat di dalam Islam. Menurut ulama Nahdlatul Ulama mitos tersebut termasuk dalam kategori ‘urf fasid yang berarti tidak dapat digunakan sebagai hujjah, tetapi di dalam kondisi tertentu masih dapat digunakan secara sosial sebagai bentuk pencegahan terhadap pernikahan tidak sekufu’ demi kemaslahatan. Sementara itu, ulama Muhammadiyah menolak keras segala bentuk mitos yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur'an dan Hadis. Kata Kunci: Mitos, larangan pernikahan, ulama desa, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah.