Komparatif: Jurnal Perbandingan Hukum dan Pemikiran Islam
Vol. 5 No. 2 (2025): December

Marriage Prohibition Between Sepande and Banjarpoh Residents: Perspectives of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah

Almahdi, Tajuddin Nabil (Unknown)
Destiara, Sumi (Unknown)
Salsabila , Nisrina Ruliana (Unknown)
Nadhifah , Nurul Asiya (Unknown)
Yanda, Gatralina Sekar Harum Ael (Unknown)



Article Info

Publish Date
30 Dec 2025

Abstract

Abstract: The myth about the taboo of marriage between the residents of Sepande Village and Banjarpoh Hamlet in Sidoarjo is part of a local tradition that is believed to bring bad luck, disaster, and even death. Although the majority in the area are Muslims, this myth is still believed by some people to this day. This article examines the views of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah village scholars on the myth of the prohibition of marriage between the residents of Sepande Village and Banjarpoh Hamlet. This type of research is empirical research using a sociological approach. The research data was obtained through interviews, observations and documentation. The data was analyzed comparatively to compare the opinions of the two scholars. The results of this study show that Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah scholars agree against the myth of the prohibition of marriage between the people of Sepande and Banjarpoh, because they do not have a strong legal basis in Islam. According to the scholars of Nahdlatul Ulama, the myth is included in the category of 'urf fasid, which means it cannot be used as an argument (hujjah), but under certain conditions it can still be used socially as a form of prevention against non-kufu’ marriage for the sake of benefit. Meanwhile, Muhammadiyah scholars strongly reject all forms of myths that lack a basis in the Qur'an and Hadith. Keywords: Myths, prohibition of marriage, village scholar, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah. Abstrak: Mitos mengenai pantangan menikah antara warga Desa Sepande dan Dusun Banjarpoh di Sidoarjo merupakan bagian dari tradisi lokal yang diyakini dapat membawa kesialan, musibah, bahkan kematian. Meskipun mayoritas di daerah tersebut beragama Islam, tetapi mitos itu masih dipercaya sebagian masyarakat hingga saat ini. Artikel ini mengkaji tentang pandangan ulama desa  Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah terhadap mitos larangan menikah antara warga Desa Sepande dan Dusun Banjarpoh. Jenis penelitian ini adalah penelitian empiris dengan menggunakan pendekatan sosiologis. Data penelitian diperoleh melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Data tersebut dianalisis secara komparatif untuk membandingkan dua pendapat ulama tersebut. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ulama Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sepakat menentang mitos larangan pernikahan antara warga Sepande dan Banjarpoh, karena tidak memiliki landasan hukum yang kuat di dalam Islam. Menurut ulama Nahdlatul Ulama mitos tersebut termasuk dalam kategori ‘urf fasid yang berarti tidak dapat digunakan sebagai hujjah, tetapi di dalam kondisi tertentu masih dapat digunakan secara sosial sebagai bentuk pencegahan terhadap pernikahan tidak sekufu’ demi kemaslahatan. Sementara itu, ulama Muhammadiyah menolak keras segala bentuk mitos yang tidak memiliki landasan dari Al-Qur'an dan Hadis. Kata Kunci: Mitos, larangan pernikahan, ulama desa, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah.  

Copyrights © 2025






Journal Info

Abbrev

komparatif

Publisher

Subject

Religion Humanities Law, Crime, Criminology & Criminal Justice Social Sciences

Description

The Komparatif furnishes an international and regional scholarly forum for research on Comparative Mazahib, Law, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, ...