Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analysis of the Effects of Employee Creativity Antecedents and Organizational Innovation with Initiative Culture as a Moderating Variable (Study on Employees of BPJS Kesehatan) Sari Verdiana, Antokalina
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i2.63654

Abstract

The underlying motivation for innovation in public sector organizations is to improve service and problem-solving. Creativity can be considered an important prerequisite for organizational innovation. This research is quantitative confirmatory, which aims to analyze the influence of employee creativity (knowledge sharing, person-organization fit, and business ethics) on organizational innovation with friendly-initiative culture as a mediating variable. Data collection in this study used non-probability sampling with a purposive sampling technique, with a total sample of 530 employees from the BPJS Kesehatan Head Office and six Regional Deputies who had been working for more than one year. Questionnaires were distributed online using the www.surveymonkey.com application. Data were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) with SmartPLS® version 3.2.8. The results showed that business ethics significantly influenced employee creativity, which in turn impacted organizational innovation, whereas knowledge sharing, person-organization fit, and initiative-friendly culture did not demonstrate significant effects in this research model.
Analisis Klasterisasi Spasial Penyakit Lepra Berbasis Indikator Makroekonomi Kabupaten/Kota di Indonesia Ramadhan, Gilang; Aslam Muwaffiq, Muhammad; Sari Verdiana, Antokalina
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v11i2.63846

Abstract

Penyakit lepra masih menjadi tantangan kesehatan strategis di Indonesia yang ditandai dengan disparitas antarwilayah yang signifikan dan berkaitan erat dengan determinan sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasi kinerja algoritma K-Means dan Hierarchical Clustering dalam memetakan zonasi risiko lepra berbasis indikator makroekonomi (kapasitas fiskal, kemiskinan, keterbelakangan, dan pengeluaran) di 514 kabupaten/kota di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif Data Mining yang meliputi normalisasi Euclidean, metode Elbow untuk penentuan klaster optimal, dan validasi model menggunakan Silhouette Coefficient. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hierarchical Clustering memiliki nilai validitas statistik lebih tinggi (0.5357) dibandingkan K-Means (0.4354), K-Means dipilih sebagai model terbaik karena mampu menghasilkan distribusi spasial yang lebih proporsional dan menghindari pengelompokan outlier yang ekstrem. Penelitian ini mengidentifikasi tiga klaster berbeda: Zona Endemis Tinggi-Fiskal Kuat, Zona Tertinggal dengan potensi masalah kurang deteksi (under-detection), dan Zona Moderat. Kesimpulan penelitian mengungkap paradoks di mana beban lepra tertinggi justru ditemukan pada wilayah yang mapan secara ekonomi, mengindikasikan adanya ketimpangan internal, sementara wilayah tertinggal membutuhkan perbaikan infrastruktur deteksi. Temuan ini menjadi landasan bagi intervensi kebijakan yang berdiferensiasi. Penyakit lepra masih menjadi tantangan kesehatan strategis di Indonesia yang ditandai dengan disparitas antarwilayah yang signifikan dan berkaitan erat dengan determinan sosial-ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkomparasi kinerja algoritma K-Means dan Hierarchical Clustering dalam memetakan zonasi risiko lepra berbasis indikator makroekonomi (kapasitas fiskal, kemiskinan, keterbelakangan, dan pengeluaran) di 514 kabupaten/kota di Indonesia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif Data Mining yang meliputi normalisasi Euclidean, metode Elbow untuk penentuan klaster optimal, dan validasi model menggunakan Silhouette Coefficient. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun Hierarchical Clustering memiliki nilai validitas statistik lebih tinggi (0.5357) dibandingkan K-Means (0.4354), K-Means dipilih sebagai model terbaik karena mampu menghasilkan distribusi spasial yang lebih proporsional dan menghindari pengelompokan outlier yang ekstrem. Penelitian ini mengidentifikasi tiga klaster berbeda: Zona Endemis Tinggi-Fiskal Kuat, Zona Tertinggal dengan potensi masalah kurang deteksi (under-detection), dan Zona Moderat. Kesimpulan penelitian mengungkap paradoks di mana beban lepra tertinggi justru ditemukan pada wilayah yang mapan secara ekonomi, mengindikasikan adanya ketimpangan internal, sementara wilayah tertinggal membutuhkan perbaikan infrastruktur deteksi. Temuan ini menjadi landasan bagi intervensi kebijakan yang berdiferensiasi.