Tedi Supriyadi
Universitas Pendidikan Indonesia, Indonesia

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN SALAT DHUHA DALAM MEMBENTUK KARAKTER DISIPLIN DI SEKOLAH DASAR Fadli Adiya Asyari; Alya Rahmawati; Faiz Anggara Mahardika; Farhan Rizqi Fauzan; Tedi Supriyadi
Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam Vol 8 No 2 (2025): Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/dirasah.v8i2.754

Abstract

Penelitian ini membahas tentang salat Dhuha sebagai media membentuk karakter disiplin siswa di sekolah dasar. Fokus penelitian ini adalah mengkaji bagaimana pelaksanaan salat Dhuha di lingkungan sekolah dasar dapat berperan dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan pada siswa. Melalui penelitian ini, akan ditelaah peran guru PAI dan dukungan lingkungan sekolah dalam pelaksanaan salat Dhuha, serta dampaknya terhadap perilaku disiplin siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru PAI berperan sebagai pembimbing, motivator, sekaligus teladan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Selain itu, keterlibatan wali kelas dan dukungan pihak sekolah turut memperkuat implementasi nilai disiplin di kalangan siswa. Evaluasi terhadap karakter siswa dilakukan tidak hanya berdasarkan hasil akademik, tetapi juga melalui pengamatan perilaku sehari-hari, seperti kehadiran tepat waktu, keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, dan tanggung jawab terhadap tugas. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sangat diperlukan agar nilai-nilai disiplin dapat tertanam dengan baik.
PERAN SALAT DHUHA DALAM MEMBENTUK KARAKTER DISIPLIN DI SEKOLAH DASAR Fadli Adiya Asyari; Alya Rahmawati; Faiz Anggara Mahardika; Farhan Rizqi Fauzan; Tedi Supriyadi
Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam Vol. 8 No. 2 (2025): Dirasah: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Dasar Islam
Publisher : Institut Binamadani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51476/dirasah.v8i2.754

Abstract

Penelitian ini membahas tentang salat Dhuha sebagai media membentuk karakter disiplin siswa di sekolah dasar. Fokus penelitian ini adalah mengkaji bagaimana pelaksanaan salat Dhuha di lingkungan sekolah dasar dapat berperan dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan pada siswa. Melalui penelitian ini, akan ditelaah peran guru PAI dan dukungan lingkungan sekolah dalam pelaksanaan salat Dhuha, serta dampaknya terhadap perilaku disiplin siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru PAI berperan sebagai pembimbing, motivator, sekaligus teladan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Selain itu, keterlibatan wali kelas dan dukungan pihak sekolah turut memperkuat implementasi nilai disiplin di kalangan siswa. Evaluasi terhadap karakter siswa dilakukan tidak hanya berdasarkan hasil akademik, tetapi juga melalui pengamatan perilaku sehari-hari, seperti kehadiran tepat waktu, keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, dan tanggung jawab terhadap tugas. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sangat diperlukan agar nilai-nilai disiplin dapat tertanam dengan baik.
KOLABORASI ANTARA SPIRITUALITAS DAN MEDIS DALAM PENANGANAN OBSESSIVE-COMPULSIVE DISORDER (OCD): PERSPEKTIF ULAMA DAN PERAWAT JIWA Marchelya Della Vega Boys; Wulan Indriani Rahayu; Fina Rozalina; Eprilia Putri Nurhaliza Sumardi; Kento Pirmanto; Tedi Supriyadi
AT-TAJDID Vol 9 No 2 (2025): JULI-DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/att.v9i2.4268

Abstract

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) merupakan gangguan mental yang kompleks. Dalam perspektif Islam dikenal sebagai waswas, yaitu bisikan setan yang mengganggu ketenangan dan ibadah. Dalam konteks keperawatan, OCD dipandang sebagai gangguan neuropsikiatri yang membutuhkan intervensi medis dan psikologis. Penelitian ini bertujuan untuk menggali perbedaan dan persamaan antara pandangan ulama dan perawat jiwa terhadap OCD serta mengeksplorasi pendekatan penanganan yang tepat dan terintegrasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif-analitis, melalui studi literatur dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama memaknai OCD sebagai ujian dari Allah dan bagian dari gangguan spiritual, sementara perawat jiwa mendefinisikannya sebagai gangguan mental dengan gejala obsesi dan kompulsi. Keduanya sepakat bahwa OCD perlu penanganan serius dan terpadu. Pendekatan medis seperti farmakoterapi dan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dengan teknik Exposure and Response Prevention (ERP), serta pendekatan spiritual seperti dzikir, doa, dan pembiasaan ibadah, dianggap saling melengkapi dalam proses penyembuhan. Dengan demikian, integrasi antara nilai-nilai keislaman dan etika keperawatan modern diperlukan untuk menciptakan model penanganan OCD yang lebih komprehensif dan berakar pada budaya lokal serta nilai spiritual.Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) is a complex mental disorder. In the Islamic perspective, it is known as waswas, which is a demonic whisper that disturbs peace and worship. In the context of nursing, OCD is seen as a neuropsychiatric disorder that requires medical and psychological interventions. This study aims to explore the differences and similarities between the views of ulama and psychiatric nurses towards OCD and explore appropriate and integrated treatment approaches. The method used was a qualitative approach with a descriptive-analytical design, through literature study and interviews. The results showed that ulama interpret OCD as a test from Allah and part of a spiritual disorder, while psychiatric nurses define it as a mental disorder with symptoms of obsessions and compulsions. Both agree that OCD needs serious and integrated treatment. Medical approaches such as pharmacotherapy and Cognitive Behavioral Therapy (CBT) with the Exposure and Response Prevention (ERP) technique, as well as spiritual approaches such as dhikr, prayer, and worship habits, are considered complementary in the healing process. Thus, the integration of Islamic values and modern nursing ethics is needed to create a more comprehensive OCD treatment model that is rooted in local culture and spiritual values.