Camellia
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sriwijaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POLA ASUH ORANG TUA DALAM MEMBENTUK KARAKTER MANDIRI ANAK SUKU BAJO DI DESA LALUIN HALMAHERA SELATAN Udi Murad; Wahyudin Noe; Camellia; Dyla Fajhriani N
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v11i02.113

Abstract

Suku Bajo dikenal sebagai suku yang erat dengan kehidupan laut. Pola interaksi suku ini terpusat di laut dan laut sebagai sumber kehidupan mereka. Sejak kecil, anak-anak suku ini diajarkan mengenai tehnik berenang, menyelam, serta memancing sehingga memiliki keterampilan mencari kehidupan dari hasil laut. Namun di sisi lain, tingkat kemandirian anak dalam hal menuntut ilmu masih rendah karena kurangnya dorongan dan motivasi orang tua terhadap pendidikan anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Kondisi demikian sebagaimana terjadi di masyarakat desa Laluin kecamatan Kayoa Selatan kabupaten Halmahera Selatan. Hal tersebut disebabkan pola asuh orang tua yang belum optimal dalam mengembangkan karakter mandiri anak terlebih pada pendidikan formal. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi deskriptif mengenai pola asuh orang tua Suku Bajo dalam membentuk karakter mandiri anak di desa Laluin. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Hasilnya menggambarkan bahwa: 1) pola asuh orang tua dalam membentuk karakter anak suku Bajo di desa Laluin dilakukan dalam pola asuh otoriter, permisif, ataupun demokratis; 2) faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua dalam membentuk karakter mandiri anak suku Bajo di desa Laluin, diantaranya: a) tingkat pendidikan orang tua, dan b) status ekonomi dan pekerjaan orang tua.   The Bajo tribe is known as a tribe that is close to marine life. This tribe's interaction pattern is centered on the sea and the ocean as their source of life. Since childhood, the children of this tribe are taught swimming, diving and fishing techniques so that they have the skills to earn a living from sea products. However, on the other hand, the level of independence of children in terms of studying is still low due to a lack of parental encouragement and motivation for their children's education to continue their education to a higher level. This condition occurs in the community of Laluin village, South Kayoa subdistrict, South Halmahera district. This is due to parents' parenting patterns which are not yet optimal in developing children's independent character, especially in formal education. This research aims to obtain descriptive information regarding the parenting patterns of Bajo parents in forming the independent character of children in Laluin village. This research is qualitative research with a case study method. The results illustrate that: 1) parents' parenting patterns in shaping the character of Bajo children in Laluin village are carried out in authoritarian, permissive or democratic parenting patterns; 2) factors that influence parents' parenting patterns in shaping the independent character of Bajo children in Laluin village, including: a) parents' education level, and b) parents' economic and employment status.
DINAMIKA POLITIK PASCA-PEMILU 2024: ANALISIS POSISI INDONESIA DI TAHUN 2025-2029 Rike Erlande; Camellia; Akbar Aba; Nurul Fajariah; Nila Sari
Bhineka Tunggal Ika Kajian Teori dan Praktik Pendidikan PKN
Publisher : Universitas Sriwijaya in Collaboration with AP3Kni (Asosiasi Profesi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Indonesia/Indonesia Association Profession of Pancasila and Civic Education)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jbti.v12i2.233

Abstract

Pasca-Pemilu 2024, politik Indonesia berada pada titik persilangan antara peluang demokratisasi dan tantangan konsolidasi kekuasaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis telaah literatur untuk mengkaji bagaimana partisipasi politik, digitalisasi, dan kebijakan keberlanjutan membentuk arah pemerintahan 2025–2029. Temuan menunjukkan bahwa meningkatnya partisipasi generasi muda dan ekspansi ruang digital memperkuat legitimasi demokrasi, tetapi juga menimbulkan risiko polarisasi dan penyebaran disinformasi. Agenda transisi energi berkelanjutan pun menghadapi kesenjangan koordinasi antarsektor dan lemahnya implementasi kebijakan di tingkat daerah. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan penguatan tata kelola pemerintahan yang transparan, peningkatan literasi digital warga negara, serta sinergi kebijakan hijau berbasis partisipasi publik. Penelitian lanjutan disarankan berfokus pada perilaku politik generasi muda dan dinamika wacana digital untuk memperkuat pengembangan demokrasi Indonesia yang adaptif dan berkelanjutan.   After the 2024 general election, Indonesian politics stands at a crossroads between opportunities for democratization and challenges of power consolidation. This study employs a qualitative approach through an extensive literature review to examine how political participation, digitalization, and sustainability policies shape the country’s governance trajectory for 2025–2029. The findings reveal that the growing involvement of young voters and the expansion of digital spaces strengthen democratic legitimacy while also creating risks of polarization and disinformation. The sustainable energy transition agenda faces coordination gaps across sectors and weak policy implementation at the regional level. Practically, this research recommends enhancing transparent governance, improving citizens’ digital literacy, and fostering participatory green policy integration. Future studies are encouraged to focus on youth political behavior and digital discourse dynamics to strengthen the development of an adaptive and sustainable Indonesian democracy.