p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Al-Qiyadah Al-Hikmah
Anis Sulalah
Sekolah Tinggi Agama Islam Raudhatul Ulum Arrahmaniyah Sampang

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Al-Qiyadah

Manajemen Peserta Didik Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah dalam Pembentukan Karakter Spiritual dan Nasional Farizki Nursalam; Anis Sulalah; Hilmiatul Mubarokah; Nafilatul Ula; Nurul Aini
AL-Qiyadah Vol 1 No 1 (2025): Al-Qiyadah
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam STAIRUA Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/km6ncg36

Abstract

Setiap elemen dalam lembaga pendidikan harus dikelola dengan efektif, termasuk peserta didik, agar tata kelolanya berfungsi dengan baik. Manajemen peserta didik merupakan keseluruhan proses kegiatan yang direncanakan dan diusahakan secara sengaja serta pembinaan yang berkelanjutan bagi siswa agar dapat mengikuti proses belajar mengajar secara efektif. Artikel ini menganalisis bagaimana manajemen peserta didik yang diterapkan pada lembaga-lembaga di pondok pesantren Raudlatul Ulum Arrahmaniyah (RUA) Sampang Madura dalam mewujudkan pendidikan berkarakter. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lembaga-lembaga yang berada di bawah naungan pondok pesantren RUA menggunakan sistem pendidikan berbasis pesantren yang menganut paham keaswajaan. Berlandaskan pada paham tersebut ditemukan bahwa RUA menggunakan beberapa strategi dalam mewujudkan pendidikan berkarakter spiritual dan nasionalis yaitu; habituasi, moral knowing, moral feeling, moral loving, moral modeling, dan Taubat. Selain itu, empat fungsi manajemen digunakan dalam pengaplikasian strategi-strategi tersebut yaitu; 1) Planning untuk menentukan nilai-nilai karakter, sosialisasi, membuat rencana harian, dan menerapkan pembiasaan dalam perilaku sehari-hari. 2) Organizing: pengasuh Pondok Pesantren RUA bertanggung jawab untuk membentuk struktur organisasi. 3) actuating: Dewan mencanangkan empat program: sistem formal, sistem non-formal, sistem organisasi, dan sistem vokasional. 4) controlling: Pengawasan langsung dan evaluasi oleh Kepala Sekolah dan anggota dewan Pondok Pesantren RUA.
Elegansi yang Menipu: Mengungkap Kompleksitas di Balik Kesederhanaan Teori MSDM dalam Transformasi Pendidikan Kontemporer Anis Sulalah
AL-Qiyadah Vol 1 No 2 (2025): Al-Qiyadah
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam STAIRUA Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/8b0ekz31

Abstract

Dinamika antara parsimoni teoretis dan kompleksitas kontekstual merupakan persoalan sentral dalam kajian Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM). Model-model populer seperti kerangka motivasi dan tipologi kepemimpinan sering disajikan sebagai instrumen konseptual yang ringkas dan aplikatif. Meskipun tampak menyederhanakan realitas organisasi, kerangka seperti ini sering menyembunyikan kompleksitas teoretis, asumsi metodologis yang implisit, serta tantangan substantif dalam penerapannya di ranah praktik. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur sistematis secara kualitatif untuk menelaah alasan di balik dominasi model-model simplifikatif, khususnya dalam konteks pendidikan. Analisis dilakukan melalui seleksi literatur akademik yang relevan di bidang MSDM dan pendidikan, mencakup buku, artikel jurnal, dan publikasi ilmiah lainnya. Hasil analisis menunjukkan bahwa kejelasan konseptual yang ditawarkan oleh model-model tersebut sering kali bersumber dari abstraksi tingkat tinggi dan generalisasi lintas konteks yang tidak selalu mempertimbangkan dimensi sosial-budaya dari institusi pendidikan. Studi ini menegaskan bahwa kesederhanaan teoretis bukanlah indikasi reduksionisme, melainkan strategi konseptual untuk memfasilitasi pemahaman terhadap dinamika organisasi yang kompleks. Namun, efektivitas penerapan kerangka tersebut bergantung pada kemampuan untuk menyesuaikan interpretasi dengan konteks empiris yang spesifik. Tanpa kepekaan terhadap konteks lokal, penggunaan teori yang terlalu abstrak berpotensi menghasilkan implikasi kebijakan dan praktik yang kurang tepat sasaran.