Penelitian ini mengkaji dialog antara teks dan konteks hadis khulu’ untuk memahami fenomena gugatan cerai seorang guru PPPK perempuan di Blitar serta relevansinya bagi pendidikan multikultural. Menggunakan pendekatan kualitatif berbasis data digital, penelitian memanfaatkan kitab hadis, syarah, literatur akademik, regulasi terkait PPPK, dan pemberitaan media online. Analisis dilakukan melalui qualitative content analysis dan thematic analysis guna menelusuri konstruksi makna perceraian, perubahan peran gender, dan posisi khulu’ dalam dinamika keluarga modern. Kerangka double movement Fazlur Rahman digunakan untuk menghubungkan makna historis khulu’ dengan konteks kontemporer, sementara teori James Banks membantu membaca bagaimana media membentuk pengetahuan publik tentang perempuan muslim, otoritas keluarga, dan legitimasi khulu’. Hasil penelitian menunjukkan bahwa khulu’ dapat menjadi dasar pembelajaran multikultural yang menekankan kesetaraan, penghargaan terhadap pengalaman perempuan, serta pembacaan teks keagamaan secara kritis. Temuan ini berkontribusi pada integrasi kajian hadis dengan pendidikan multikultural di era digital.