Batam memiliki posisi strategis sebagai hub logistik nasional melalui implementasi Batam Logistic Ecosystem (BLE) yang menargetkan efisiensi rantai pasok dan peningkatan daya saing. Namun kinerja industri logistik ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia (SDM) yang tersertifikasi dan kompeten sesuai standar. Riset ini melakukan gap analysis antara kondisi ideal (mengacu SKKNI, KKNI/AQRF, dan kebutuhan industri) dan kondisi aktual di perusahaan-perusahaan logistik Batam. Penelitian bersifat deskriptif-kualitatif melalui studi literatur, observasi ekosistem, dan wawancara terarah dengan pelaku industri, asosiasi, dan lembaga pendidikan vokasi. Hasil menunjukkan kesenjangan menonjol pada (1) kepemilikan sertifikasi formal pada jabatan kritikal (operator gudang, freight forwarding, admin logistik, sopir truk/angkutan peti kemas); (2) akses dan biaya sertifikasi yang masih tinggi (3) ketidaksesuaian kompetensi teknis terhadap tuntutan operasional digitalisasi logistic serta (4) lemahnya orkestrasi triple helix (industri–pemerintah–pendidikan) dalam penyiapan talenta. Gap berdampak pada produktivitas, kepatuhan, reliabilitas layanan, dan daya saing pasar internasional. Rekomendasi meliputi percepatan kehadiran/kemitraan LSP logistik di Batam, program pelatihan berbasis kompetensi yang diselaraskan dengan SKKNI, skema pembiayaan sertifikasi yang inklusif, serta penguatan kurikulum vokasi yang terintegrasi dengan kebutuhan industri dan BLE.