Muhammad Agil Atoillah
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Epistemologi Isrā’iliyyāt dalam Perbincangan Al-Dakhīl Nugraha Rifqi; Muhammad Agil Atoillah; Muhammad Imrul Qois
Al-Hikmah Vol. 2 No. 1 (2025): AL-Hikmah
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64481/03pt9g85

Abstract

Penelitian ini mengkaji epistemologi Isrā’iliyyāt dan kapasitas fungsionalnya dalam khazanah tafsir Al-Qur’an. Secara historis, Isrā’iliyyāt, yakni narasi yang bersumber dari tradisi Yahudi dan Nasrani, sering dimanfaatkan oleh mufasir awal karena mampu menyediakan rincian spesifik mengenai tokoh dan tempat kejadian yang minim informasinya dalam riwayat Hadis. Namun, praktik ini menimbulkan kontroversi serius. Seiring perkembangan ilmu tafsir, banyak ulama modern, seperti Muhammad Abduh dan Muhammad Syaltut, mengecam keras penggunaannya, bahkan menilai riwayat ini sebagai penghalang utama bagi umat Islam untuk menangkap petunjuk murni Al-Qur’an. Kekhawatiran ini muncul karena Isrā’iliyyāt berpotensi besar mengandung cerita atau berita yang dibuat-buat (infiltrasi), sehingga mengancam integritas penafsiran.  Mengatasi krisis integritas sumber tersebut, penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode kualitatif deskriptif, berfokus pada identifikasi historis dan klasifikasi narasi Isrā’iliyyāt. Hasilnya, para ulama telah melakukan ijtihad untuk membagi Isrā’iliyyāt menjadi tiga kategori hukum yang tegas: 1) yang diketahui kesahihannya dan sejalan dengan Islam (diterima); 2) yang jelas kebohongannya (wajib ditolak); dan 3) yang didiamkan (Tawqif). Imam Ibn Katsir memberikan panduan epistemologis, di mana riwayat kategori Tawqif boleh diceritakan sebagai pelajaran (‘ibrah), tetapi dilarang keras untuk diimani atau dijadikan landasan keyakinan. Oleh karena itu, penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan Isrā’iliyyāt harus melalui filtrasi ketat dan hanya menempati kapasitasnya sebagai pelengkap interpretasi pada ayat-ayat yang membutuhkan detail, bukan sebagai sumber akidah.
#Lanjutkandikamu: Al-Qur’an sebagai Teks Fungsional-Transformatif dalam Gerakan Filantropi Virtual Muhammad Agil Atoillah; Nuzlin Nashihatul Ulayya; M. Yusuf; Muhammad Irham Saryulis
Dialogia Vol. 24 No. 01 (2026): DIALOGIA: JURNAL STUDI ISLAM DAN SOSIAL
Publisher : Ushuluddin, Adab, and Dakwah Faculty of State Islamic University Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/dialogia.v24i01.13328

Abstract

This study examines the evolving landscape of Islamic philanthropy within virtual spaces, analyzing how the YouTube channel Hobby Makan transforms digital content into a strategic platform for empowering marginalized MSME communities in Indonesia through the #Lanjutkandikamu movement. Employing digital field research with a qualitative-descriptive approach, the study analyzes 11 purposively selected videos from 2019 to 2025 through two complementary theoretical frameworks: Ahmad Rafiq's Living Qur'an typology, which maps the social function of Qur'anic reception, and Asy-Sya'rāwī's Tafsir Khawāṭir, which provides the exegetical lens for interpreting the specific verses cited. The findings reveal that Hobby Makan's Qur'anic reception operates across three distinct yet interdependent layers: the Lived Qur'an, in which Qur'anic moral values are already embodied in the merchant’s cultural habitus and sanctified through editorial verse selection; the Living Qur'an, in which Evan and Tiwi function as deliberative scriptural agents who mobilize verses such as QS. Al-Baqarah [2]: 245 (Qarḍan Ḥasanan) and QS. Al-Mā’idah [5]: 2 (Ta’āwun) as a theological justification for collective philanthropic action; and the Propagating Qur'an, an extension of Rafiq's typology proposed by this study, in which algorithmically distributed Qur'anic citations reproduce themselves as collective social norms inviting audience imitation. The analysis further identifies a consistent curatorial logic in the channel's verse selection and critically examines the structural tension between altruistic sincerity and the monetized nature of digital content. This study concludes that the Qur'an in the Hobby Makan ecosystem functions as a functional-transformative text, an instrument that simultaneously sacralizes individual action, mobilizes collective giving, and constructs a virtual ummah bound by shared Qur'anic norms, thereby contributing a replicable model to the discourse on digital Islamic anthropology.