Indigenous knowledge of the Lom Tribe on Bangka Island is crucial for disaster mitigation, particularly in relation to floods, forest fires, landslides, and tornadoes. This study aims to identify, document, and analyse the effectiveness of the Lom Tribe's traditional strategies in disaster risk reduction and explore their potential integration into community-based mitigation policies. Using qualitative methodology, data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and document analysis. The findings reveal that the belief system in the guardian spirits of sacred forests, land management practices such as behume, and social traditions like Nujuh Jerami contribute to maintaining ecosystem balance and enhancing social resilience. These strategies have proven effective in locally reducing disaster risks, although they require adaptation to environmental and social changes. This study highlights the importance of integrating local wisdom with scientific approaches to develop more sustainable and inclusive disaster mitigation policies, particularly for indigenous communities that rely on natural balance. Kearifan lokal Suku Lom di Pulau Bangka memiliki peran penting dalam mitigasi bencana, terutama dalam menghadapi banjir, kebakaran hutan, tanah longsor, dan angin puting beliung. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mendokumentasikan, dan menganalisis efektivitas strategi tradisional Suku Lom dalam pengurangan risiko bencana serta mengeksplorasi potensinya dalam kebijakan mitigasi berbasis komunitas. Menggunakan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem kepercayaan terhadap roh penjaga hutan larangan, praktik pengelolaan lahan seperti Behume, serta tradisi sosial seperti Nujuh Jerami berkontribusi dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan memperkuat ketahanan sosial. Strategi ini terbukti efektif dalam mengurangi risiko bencana secara lokal, meskipun masih memerlukan adaptasi terhadap perubahan lingkungan dan sosial. Studi ini menegaskan pentingnya integrasi kearifan lokal dengan pendekatan ilmiah dalam kebijakan mitigasi bencana yang lebih berkelanjutan dan inklusif, terutama bagi masyarakat adat yang bergantung pada keseimbangan alam.