Siswa sekolah dasar harus memiliki kemampuan numerik yang penting untuk mempelajari matematika dan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan konsep bilangan. Hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa kemampuan numerik siswa kelas I masih perlu ditingkatkan, terutama dalam mengenal nilai tempat, operasi hitung dasar, dan menguasai konsep bilangan. Kondisi ini menunjuk perlunya penerapan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik gaya belajar peserta didik di sekolah dasar. Studi ini bertujuan untuk mengetahui model pembelajaran berbasis permainan yang dibantu oleh media timbangan angka (Timang) mempengaruhi kemampuan numerik siswa di kelas I. Penelitian ini menggunakan kuantitatif dan metode quasieksperimen dengan desain kelompok kontrol yang tidak sebanding. Penelitian ini melibatkan 37 siswa, terdiri dari 22 siswa dari SDN 2 Bendoagung sebagai kelas eksperimen dan 15 siswa dari SDN 1 Bendoagung sebagai kelas kontrol. Metode sampel jenuh digunakan untuk menentukan sampel non-probability. Observasi, tes kemampuan numerik, angket, dan dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data. Kemudian, uji N-Gain, uji prasyarat, dan uji sampel independen digunakan untuk menganalisisnya. Hasil menunjukkan perbedaan kemampuan numerik signifikan antara kelas kontrol dan eksperimen (p < 0,001). Menurut analisis N-Gain, kelas eksperimen memperoleh skor 78% (kategori efektif), sedangkan kelas kontrol hanya memperoleh 39%. Hasil ini menunjukkan bahwa, dibandingkan dengan kelas kontrol, model pembelajaran yang menggunakan permainan dan media Timang lebih efektif meningkatkan kemampuan numerik siswa di kelas I. Oleh karena itu, model ini dapat dianggap sebagai alternatif untuk matematika di SD.