Latar belakang: Infertilitas pria merupakan faktor yang berkontribusi pada hampir 50% kasus kegagalan konsepsi pada pasangan usia subur. Di era modern, perubahan perilaku seperti gaya hidup sedenter (kurang gerak) dan tingginya konsumsi rokok diduga menjadi pemicu utama penurunan kualitas reproduksi pria di area perkotaan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gaya hidup sedenter dan kebiasaan merokok terhadap parameter kualitas semen (konsentrasi, motilitas, dan morfologi) pada pria usia subur. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional). Sampel terdiri dari [Jumlah] pria usia subur (20–45 tahun) yang melakukan analisis sperma di laboratorium. Data gaya hidup dikumpulkan melalui kuesioner terstruktur yang mencakup durasi duduk harian dan intensitas merokok (Indeks Brinkman). Analisis data dilakukan dengan uji statistik Chi-Square atau Regresi Logistik untuk melihat korelasi antar variabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa pria dengan durasi duduk >8 jam per hari memiliki risiko signifikan terhadap penurunan motilitas sperma (p-value < 0,05) akibat peningkatan suhu skrotum (hipertermia). Sementara itu, kebiasaan merokok berhubungan kuat dengan penurunan konsentrasi sperma dan peningkatan persentase morfologi abnormal akibat stres oksidatif dan fragmentasi DNA. Kesimpulan: Pria yang mengombinasikan kedua gaya hidup buruk tersebut memiliki kualitas semen yang berada di bawah standar minimal WHO secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol. Gaya hidup sedenter dan kebiasaan merokok secara mandiri maupun bersama-sama memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap kualitas semen. Intervensi berupa peningkatan aktivitas fisik dan penghentian konsumsi rokok sangat direkomendasikan untuk memperbaiki profil fertilitas pada pria usia subur.