Evaluasi kinerja lingkungan di kawasan industri saat ini umumnya masih terbatas pada pendekatan berbasis kepatuhan (compliance-based) terhadap baku mutu, yang belum mampu merepresentasikan besaran dampak lingkungan secara holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem evaluasi "GreenMetric" berbasis Life Cycle Assessment (LCA) guna mengukur beban lingkungan tenant di kawasan industri PT X. Metodologi yang diterapkan adalah analisis inventori gate-to-gate sesuai standar ISO 14040 dengan unit fungsional penyediaan layanan operasional tenant per bulan. Data pelaporan RKL-RPL Rinci Tenant Y (Semester I 2023 – Semester I 2025) dikonversi menggunakan metode Life Cycle Impact Assessment (LCIA) ReCiPe 2016 perspektif Hierarchist. Hasil penelitian menunjukkan adanya fluktuasi dampak yang signifikan, dengan beban Global Warming Potential (GWP) pada akhir periode (Semester II 2024) tercatat sebesar 2,603 x 107 kg CO2-eq. Analisis hotspot mengidentifikasi konsumsi listrik grid dan penggunaan bahan bakar batubara sebagai kontributor utama emisi karbon. Selain itu, studi ini mengungkapkan risiko keberlanjutan pada aspek non-GWP, yaitu tingginya potensi kelangkaan air (Water Consumption Potential) akibat absennya mekanisme daur ulang, serta stagnasi skor okupansi lahan (Land Occupation Potential) karena minimnya Ruang Terbuka Hijau (2,8%). Simulasi skenario substitusi energi menunjukkan bahwa penerapan PLTS Atap sebesar 20% mampu mereduksi emisi hingga 692,7 ton CO2-eq atau setara dengan penurunan 9,6% dari total jejak karbon tenant, yang mengindikasikan efektivitas transisi energi parsial dalam dekarbonisasi industri.