Latar belakang penelitian ini didasarkan pada rendahnya menulis dan berpikir kritis siswa yang disebabkan oleh penggunaan metode pembelajaran konvensional yang berpusat pada guru dan kurang memberikan ruang bagi siswa untuk mengalami, berefleksi, serta mengaitkan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan model pembelajaran Experiential Learning terhadap keterampilan menulis berpikir kritis siswa sekolah dasar, sekaligus menguji hubungan antara kedua variabel tersebut secara empiris.. Model Experiential Learning, yang menekankan proses belajar melalui pengalaman konkret, refleksi, konseptualisasi, dan eksperimen aktif, diyakini mampu mengatasi permasalahan tersebut dengan menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna, partisipatif, dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi experiment tipe Nonequivalent Control Group Design, . Sampel dalam penelitian ini diambil dari SD Santa Ursula Jakarta yang terletak di Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Data dikumpulkan melalui tes keterampilan menulis narasi dan tes berpikir kritis yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji t dan regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model Experiential Learning berpengaruh signifikan terhadap peningkatan keterampilan menulis siswa dengan nilai signifikansi 0,049 (< 0,05) dan terhadap berpikir kritis dengan nilai signifikansi 0,042 (< 0,05). Selain itu, terdapat korelasi positif yang signifikan antara keterampilan menulis dan berpikir kritis dengan nilai signifikansi 0,002 (< 0,05) dan Fhitung sebesar 11,404, yang menunjukkan bahwa semakin baik keterampilan menulis siswa, semakin tinggi pula berpikir kritisnya. Hasil ini menegaskan bahwa penerapan model Experiential Learning efektif dalam mengembangkan dua keterampilan penting tersebut secara bersamaan. Dengan demikian, pembelajaran berbasis pengalaman nyata tidak hanya meningkatkan hasil belajar siswa secara akademis, tetapi juga mengembangkan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills), kreativitas, serta kemandirian belajar. Penelitian ini merekomendasikan agar guru menerapkan model Experiential Learning sebagai strategi inovatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, karena model ini selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka.