Krisna, Muhammad. Sidharta
Unknown Affiliation

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

LAPORAN KASUS : FIMOSIS PADA ANAK DI RSUD HAJI MAKASSAR Rahayu, Mika; Hasbi, Berry Erida; Krisna, Muhammad. Sidharta; Abduh, Muhammad
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55441

Abstract

Fimosis merupakan kondisi ketidakmampuan retraksi preputium penis yang dapat bersifat fisiologis maupun patologis. Pada anak, fimosis umumnya fisiologis dan mengalami resolusi spontan seiring pertambahan usia, namun fimosis patologis dapat menimbulkan keluhan klinis signifikan, termasuk gangguan berkemih, nyeri saat berkemih, pancaran urin lemah, dan meningkatkan risiko infeksi serta komplikasi lainnya, sehingga memerlukan penatalaksanaan yang tepat. Laporan kasus ini menggambarkan seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang dibawa ke Poli Bedah RSUD Haji Makassar dengan keluhan sulit berkemih sejak satu minggu disertai nyeri saat berkemih, pancaran urin lemah, dan distensi preputium saat berkemih. Preputium tidak dapat diretraksi dan pasien tampak kesakitan saat berkemih, tanpa riwayat demam, hematuria, atau sirkumsisi sebelumnya. Pemeriksaan fisik menunjukkan kondisi umum sedang sakit dengan tanda vital dalam batas normal, sedangkan pemeriksaan genitalia eksterna menegaskan preputium tidak dapat diretraksi dengan hiperemis pada ujung penis tanpa edema atau nyeri tekan. Pemeriksaan penunjang meliputi darah rutin dalam batas normal dan urinalisis yang mengarah pada infeksi saluran kemih. Berdasarkan temuan klinis dan penunjang, pasien didiagnosis mengalami retensi urin akibat fimosis dan direncanakan menjalani sirkumsisi sebagai tindakan operatif. Kasus ini menegaskan bahwa fimosis patologis dapat menyebabkan gangguan berkemih yang signifikan dan membutuhkan intervensi medis. Sirkumsisi terbukti sebagai terapi definitif yang aman dan efektif, sementara penegakan diagnosis yang tepat serta pemilihan tatalaksana yang sesuai berperan penting dalam mencegah komplikasi dan mencapai luaran klinis optimal.