Nufitriani Kartika Dewi
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PERAN GURU DALAM MEMBENTUK KESADARAN GENDER BERKEADILAN SEJAK DINI DI KB/TK IT CAHAYA UMMAT Sinias Mawarni Gulo; Nufitriani Kartika Dewi; Swantyka, Swantyka Ilham Prahesti; Syifa, Syifa Fauziah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 No. 03, September 2026 Processed
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.63818

Abstract

This study aimed to describe teachers’ roles, identify instructional strategies, and analyze the supporting and inhibiting factors in developing gender equity awareness among young children at KB/TK IT Cahaya Ummat Bergas. This study employed a qualitative descriptive approach. The data were obtained from five informants consisting of one headteacher, two teachers, and two parents. The researcher collected the data through non-participant observation, guided flexible interviews, and documentation. The data were analyzed through data reduction, data display, conclusion drawing, and verification. Data trustworthiness was established through credibility, transferability, dependability, and confirmability. The findings showed that teachers served as role models of equitable behavior, facilitators of fairness values, guides of social interaction, protectors of emotional safety, and evaluators of children’s development. Teachers developed gender equity awareness through storytelling, role-play, simple discussions, thematic and collaborative activities, heterogeneous groups, open-ended questions, social-emotional approaches, and learning media representing diverse social roles. The implementation was supported by the headteacher’s commitment, teachers’ competence and collaboration, school regulations, parental support, an inclusive environment, learning media, and religious values. The process was constrained by children’s limited understanding of abstract concepts, teachers’ difficulties in simplifying language, the number of students, stereotypical comments from the surrounding environment, established habits, and parents’ limited time. The study concluded that teacher role-modelling, integrated instructional strategies, and consistent habituation across school and family environments contributed to the development of gender equity awareness from an early age. Keywords:teacher roles, gender equity awareness, early childhood, instructional strategies, early childhood education
KETERLIBATAN ORANG TUA YANG SIBUK BEKERJA DAN PERAN ASISTEN RUMAH TANGGA DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK Nazara, Ester Fitri; Himmah Taulany; Swantyka Ilham Prahesti; Nufitriani Kartika Dewi
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Released
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.63864

Abstract

The busy work schedules of parents often reduce the amount of time they can spend with their children, resulting in part of the caregiving responsibilities being delegated to domestic helpers. This condition makes parental involvement and the role of domestic helpers important factors in the character development of young children. This study aims to describe the involvement of working parents and the role of domestic helpers in children's character development at Cahya Mentari Daycare, Playgroup, and Kindergarten, Universitas Ngudi Waluyo, as well as to identify the forms of collaboration among parents, domestic helpers, and the school in supporting children's character development. This study employed a qualitative approach using a descriptive research method. The participants consisted of working parents, domestic helpers involved in child caregiving, and teachers at Cahya Mentari Daycare, Playgroup, and Kindergarten, Universitas Ngudi Waluyo. Data were collected through observations, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was conducted through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The trustworthiness of the data was ensured through source triangulation and technique triangulation. The findings indicate that parental involvement in children's character development is determined not only by the amount of time spent with children but also by the quality of interaction, communication, role modeling, supervision, and the cultivation of character values. Domestic helpers play a supporting role in daily childcare by encouraging children to develop discipline, independence, responsibility, honesty, and politeness in accordance with the guidance provided by parents. In addition, teachers reinforce character development through learning activities at school. Children's character development is more effective when there is good communication, shared parenting goals, and consistent collaboration among parents, domestic helpers, and the school. The implications of this study suggest that successful character development requires continuous synergy among families, domestic helpers, and educational institutions. Therefore, it is recommended that parents remain actively involved in parenting despite their work commitments, provide clear guidance to domestic helpers regarding the expected parenting practices, and maintain intensive communication with teachers to ensure that character values taught at home and at school are implemented consistently.
PEMANFAATAN MEDIA KOKOK AYAM MANIK DALAM MENSTIMULASI KEMAMPUAN BERPIKIR LOGIS ANAK USIA 5–6 TAHUN Yuhriyah, Umi; Nufitriani Kartika Dewi; Himmah Taulany; Syifa Fauziah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.63989

Abstract

ABSTRAK Berpikir logis merupakan kemampuan kognitif penting yang perlu dirangsang sejak usia dini karena mendukung kemampuan anak dalam mengklasifikasikan objek, mengenali pola, menyusun urutan, dan memecahkan masalah sederhana. Namun, observasi awal di TK Nurul Ikhsan menunjukkan bahwa beberapa anak usia 5-6 tahun masih mengalami kesulitan dalam melakukan tugas-tugas kognitif tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan media pembelajaran Kokok Ayam Manik dalam merangsang kemampuan berpikir logis anak, meneliti peran guru selama implementasinya, dan mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi penggunaannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Partisipan penelitian terdiri dari kepala sekolah, guru Kelompok B, dan anak-anak usia 5-6 tahun yang dipilih melalui pengambilan sampel bertujuan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, dan dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman, termasuk reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Kredibilitas data dipastikan melalui triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Kokok Ayam Manik efektif merangsang pemikiran logis anak melalui aktivitas yang melibatkan mencocokkan warna dan bentuk, mengklasifikasikan objek, menyusun pola, mengurutkan manik-manik, dan memecahkan masalah sederhana. Efektivitas media diperkuat oleh bimbingan, motivasi, dan dukungan guru selama kegiatan pembelajaran. Faktor pendukung meliputi kreativitas guru, media pembelajaran yang menarik, dan antusiasme anak, sedangkan perbedaan kemampuan anak, keterbatasan waktu belajar, dan kurangnya ketersediaan media menjadi kendala utama. Secara keseluruhan, media Kokok Ayam Manik merupakan media pembelajaran yang efektif, terjangkau, dan sesuai konteks untuk menumbuhkan kemampuan berpikir logis pada anak usia 5–6 tahun. Kata kunci: pendidikan anak usia dini, media Kokok Ayam Manik, kemampuan berpikir logis, media pembelajaran, studi kualitatif ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya anak usia 5–6 tahun yang mengalami kesulitan dalam mengenali pola, mengelompokkan benda, menyusun urutan, dan memecahkan masalah sederhana sebagai indikator kemampuan berpikir logis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan media Kokok Ayam Manik dalam menstimulasi kemampuan berpikir logis anak, mendeskripsikan peran guru dalam pelaksanaannya, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat penggunaannya di TK Nurul Ikhsan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Informan penelitian terdiri atas kepala sekolah, guru kelompok B, dan anak usia 5–6 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling . Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta kesimpulan. Keabsahan data diperoleh melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Kokok Ayam Manik mampu menstimulasi kemampuan berpikir logistik anak melalui kegiatan menyelaraskan warna dan bentuk, mengelompokkan benda, menyusun pola, mengurutkan manik-manik, serta memecahkan masalah sederhana. Keberhasilan pemanfaatan media didukung oleh peran guru melalui pemberian arahan, motivasi, dan scaffolding selama pembelajaran berlangsung. Faktor pendukung meliputi kreativitas guru, media yang menarik, dan antusiasme anak, sedangkan faktor penghambat meliputi perbedaan kemampuan anak, keterbatasan waktu belajar, dan jumlah media yang belum memadai. Media Kokok Ayam Manik dapat menjadi alternatif pembelajaran yang efektif, ekonomis, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Kata Kunci: pendidikan anak usia dini, media Kokok Ayam Manik, kemampuan berpikir logis, media pembelajaran, studi kasus
STRATEGI GURU MENSTIMULASI KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS ANAK USIA TODDLER DI TPA CAHYA MENTARI Lahagu, Liberat Listina; Nufitriani Kartika Dewi; Swantyka Ilham Prahesti; Himmah Taulany
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Now Available
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.65031

Abstract

Critical thinking is a fundamental competency for young children in meeting the demands of twenty-first-century learning, yet its stimulation among toddlers (2–3 years old) remains far less studied than among kindergarten-age children. Preliminary observation at Cahya Mentari Daycare, Ngudi Waluyo Labschool, revealed that some 2–3-year-old children tend to refuse exploratory activities, such as planting mung beans, before actually attempting them, indicating limited self-confidence and courage to solve problems independently. This study aims to identify indicators of children's critical thinking, describe teachers' strategies for stimulating it, uncover the challenges teachers face, and analyze the efforts made to overcome those challenges. A descriptive qualitative approach was employed, with the classroom teacher as the primary informant and caregivers and the institution's manager as supporting informants. Data were collected through in-depth interviews, participatory observation, and documentation, then analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing, with credibility established through source and method triangulation. The results show that indicators of children's critical thinking are reflected in two-way communication, an emerging understanding of simple cause-and-effect relationships, and participation in discussion. Teachers stimulated these abilities through guiding questions, a comfortable learning atmosphere, and learning methods such as center-based learning, Project Based Learning, and loose-parts media. The main challenge, low self-confidence among children, was addressed through sustained motivation and gradual scaffolding. These findings underscore the importance of the teacher's role as facilitator in building the foundation of critical thinking from the toddler years onward.