Pengungsi di Indonesia menghadapi kerentanan psikologis akibat trauma masa lalu dan ketidakpastian status hukum. Namun, akses terhadap intervensi kesehatan mental masih terbatas. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan menyediakan ruang aman secara emosional bagi para pengungsi melalui pelatihan Penulisan Ekspresif. Kegiatan dilaksanakan pada 14 Mei 2025 di Refugee Talent Program (RTP) Learning Center, Bogor, dan melibatkan 17 pengungsi yang berasal dari Myanmar, Afganistan, Pakistan, Somalia, Irak, dan Thailand. Metode pelatihan menggunakan stimulasi roda emosi (Wheel of Emotions) untuk membantu peserta mengeksplorasi perasaan dalam tiga lapis kedalaman, kemudian dilanjutkan dengan sesi menulis bebas selama 20 menit menggunakan lima pemantik naratif. Data dianalisis secara tematik terhadap 17 tulisan ekspresif dan lembar kerja emosi yang diisi peserta. Hasil menunjukkan bahwa 58,8% peserta (10 dari 17 orang) mengidentifikasi emosi positif, seperti bahagia, bangga, diterima, dan dihargai, sedangkan 23,5% peserta (4 orang) mengungkapkan emosi negatif, seperti marah dan takut. Analisis tematik terhadap tulisan peserta mengungkap tiga tema utama, yaitu (1) kerinduan akan kedamaian dan keamanan, (2) aspirasi masa depan dan pembentukan harapan, serta (3) pengakuan terhadap gejolak emosi yang masih dirasakan. Seluruh peserta berhasil menghasilkan tulisan ekspresif yang kemudian dipublikasikan dalam antologi Barefoot Dreams: Voices of Refugees in Indonesia. Intervensi ini terbukti efektif dalam memfasilitasi katarsis emosional dan membantu pembentukan narasi yang koheren, sekaligus memberikan validasi eksternal melalui publikasi karya. Pelatihan Penulisan Ekspresif direkomendasikan sebagai intervensi psikososial berbiaya rendah dan sesuai dengan konteks budaya yang dapat diintegrasikan ke dalam layanan pendampingan pengungsi di Indonesia.