Mayoritas mahasiswa mendambakan lingkungan akademik yang positif dan kompetitif. Namun, banyak mahasiswa menghadapi tekanan besar untuk mencapai standar tinggi dalam studi mereka. Sebagian individu merasa pencapaian prestasinya merupakan hasil keberuntungan daripada keterampilan yang dimiliki, fenomena ini dikenal sebagai impostor syndrome. Salah satu faktor yang mempengaruhi impostor syndrome adalah perfeksionisme, dimana individu memiliki kecenderungan untuk menetapkan standar yang tinggi dan berusaha untuk mencapainya disertai dengan ketidakpuasan terhadap hasil yang dicapai. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk menguji hubungan impostor syndrome dengan perfeksionisme khususnya pada kalangan mahasiswa. Metode pengambilan data diambil menggunakan teknik probability sampling dengan metode cluster sampling dan subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa di Indonesia dengan rentang usia 18-25 tahun. Hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan positif yang signifikan antara perfeksionisme dengan impostor syndrome dengan p>0,05 dan r=0,698. Semakin tinggi perfeksionisme, maka semakin tinggi tingkat impostor syndrome. sebaliknya, semakin rendah perfeksionisme, maka semakin rendah pula impostor syndrome pada mahasiswa. Adapun instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah skala impostor syndrome dan perfeksionisme. Validitas instrumen dipastikan melalui professional judgement, Content Validity Index (CVI), Aiken's V, dan analisis korelasi item total. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu mahasiswa memahami hubungan perfeksionisme dengan Impostor Syndrome dalam diri mereka, sehingga mahasiswa dapat mengelola tekanan akademik, mengurangi keraguan diri, dan membangun kepercayaan diri yang lebih sehat.