Pengembangan kepemimpinan mahasiswa merupakan aspek penting dalam pembinaan karakter dan peningkatan soft skills di perguruan tinggi, khususnya bagi mahasiswa semester awal yang masih berada pada tahap adaptasi akademik dan sosial. Namun, pembelajaran kepemimpinan sering kali masih berfokus pada pendekatan teoretis dan kurang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk belajar melalui pengalaman langsung. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan untuk memperkuat kompetensi kepemimpinan mahasiswa melalui pendekatan experiential learning yang menekankan keterlibatan aktif, refleksi diri, dan pembelajaran kontekstual. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah meningkatkan pemahaman, kesadaran diri, serta keterampilan kepemimpinan mahasiswa, terutama dalam aspek komunikasi, kerja sama, empati, dan pengambilan keputusan. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan kepemimpinan interaktif kepada mahasiswa semester 1–2 pada program pembinaan mahasiswa, dengan metode pembelajaran berbasis pengalaman. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan yang positif pada kompetensi kepemimpinan mahasiswa. Berdasarkan penilaian diri peserta, mayoritas mahasiswa berada pada kategori setuju hingga sangat setuju terhadap indikator kepemimpinan kolaboratif, dengan nilai rata-rata tertinggi pada aspek mendengarkan pendapat orang lain (4,6), melayani dan membantu orang lain (4,4), serta kemampuan bekerja sama dan membantu teman berkembang (4,2). Selain itu, hasil refleksi menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa mengidentifikasi gaya kepemimpinan demokratis sebagai gaya yang paling dominan, serta menyadari bahwa kepemimpinan dapat dijalankan tanpa jabatan formal. Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan experiential learning efektif dalam meningkatkan kompetensi kepemimpinan mahasiswa secara terukur dan bermakna.