Penyakit ginjal kronis (PGK) pada stadium lanjut memerlukan terapi hemodialisis yang berdampak pada kualitas hidup pasien secara multidimensional. Kebaruan penelitian ini terletak pada penguatan bukti empiris bahwa kualitas hidup pasien hemodialisis tidak selalu dipengaruhi oleh parameter klinis seperti kadar hemoglobin dan tingkat aktivitas fisik, melainkan lebih berkaitan dengan durasi menjalani terapi hemodialisis sebagai proses adaptasi jangka panjang pasien terhadap penyakit kronis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kadar hemoglobin, aktivitas fisik, dan lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup pasien PGK yang menjalani hemodialisis. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional terhadap 62 pasien PGK di Unit Dialisis RSUD dr. Soedjono Selong yang dipilih menggunakan consecutive sampling, di mana kadar hemoglobin diperoleh dari data rekam medis, aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire–Short Form (IPAQ-SF), dan kualitas hidup dinilai menggunakan WHOQOL-BREF, dengan analisis bivariat menggunakan Fisher’s Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin (p = 0,328) maupun tingkat aktivitas fisik (p = 0,882) dengan kualitas hidup, sedangkan lama menjalani hemodialisis berhubungan signifikan dengan kualitas hidup pasien PGK (p = 0,000). Kesimpulannya, kualitas hidup pasien PGK yang menjalani hemodialisis lebih dipengaruhi oleh adaptasi terhadap terapi jangka panjang, sehingga intervensi pelayanan kesehatan perlu diarahkan pada pendekatan holistik yang mendukung adaptasi fisik dan psikososial pasien.